Assalamu alaikum
warahmatullahi wabarakatuh..
Bismillah.. hari ini 22
Oktober 2017 disaksikan oleh tanganku yang mengetik langsung tulisan ini,
dikamarku. Aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Entah suatu saat nanti
dia akan membacanya atau tidak.
Perasaanku kepadanya yang
sering tidak keruan, belepotan, tidak tetap. Kadang aku sangat menyukainya,
kadang aku benci padanya, dan kadang pula aku merindukannya. Ku akui, aku
selalu ingin berada didekatnya, melihatnya. Jika harus memilih, berada di depan
atau di belakangnya. Aku lebih memilih untuk melihatnya dari belakang, karena
dengan berada di belakangnya, aku bisa lebih puas melihatnya tanpa dia ketahui.
Karena perasaanku padanya mungkin sama seperti perasaan Fatimah kepada Ali,
ada, dan diam-diam.
Jujur, jika ada kesempatan
aku sering mencuri pandang padanya. Dan selalu kupilih jalan agar terus bisa
melihatnya. Seperti ketika ada pemilihan komunitas seni di himpunan, awalnya
aku berada di seni sastra, tapi saat ku tau dia berada di seni rupa, aku pindah
walaupun pelatihan seni telah berjalan. Karena hal itu, aku harus mengejar
ketertinggalan di seni rupa. Tapi itu tidak masalah bagiku, asalkan ketika
pelatihan berjalan aku bisa melihatnya. Oh ya dia adalah satu-satunya anggota
seni rupa yang tidak berjilbab (laki-laki, hehe). Hasil sketsa dia wow, membuatku tambah kagum.
Dan sekitar lebih dari
sebulan yang lalu… ketika akan dilaksanakannya Pentas Seni angkatan 2016, semua
teman-teman angkatan memilih penampilan yang akan dipentaskan nanti (pada
kenyataannya tidak semua). Aku tidak tau kenapa memilih perkusi, waktu itu
kupikir tidak ada salahnya mencoba hal baru yang akan membuatku terlihat
perkasa (seperti kata seseorang yang ingin melihatku jadi perempuan perkasa).
Dan hari itu, ternyata dia juga memilih perkusi. Daebak! Kataku dalam hati.
Selama lebih dari 30 hari
itu, kami se-angkatan rutin latihan setiap hari mulai jam 16:00-20:00 WITA. Di
saat-saat latihan itu pula, aku sering senyum-senyum sendiri (kau pasti tahu
alasannya). Dia diamanahkan untuk menjadi leader di perkusi, dan aku
sangat setuju dengan hal itu, dia mudah mengerti, pandai memainkan tempo, power-nya
kuat, dia keren pokoknya.
Selama lebih dari 30 hari
itu, ada banyak kenangan yang pasti menurutmu biasa saja. Tapi bagiku, apapun
yang berurusan dengannya itu tidak biasa. Aku pernah membawakan topinya, pernah
melipat kemejanya (sebenarnya itu kemeja pelatih, tapi dia yang memakainya),
pernah menjaga tasnya, pernah membawakan sepatunya, dan pernah membawa lari
motornya, hehe.
Moodbooster-ku di perkusi.
Aku sungguh tak tahu alasanku
untuk suka padanya, sudah pasti bukan karena ketampanannya, dia sungguh tidak lolos
dalam kriteria pria yang kusukai. Tapi karenanya, dengan melihatnya, ketampanan
sudah tidak penting lagi bagiku.
Dan untukmu A ...
Assalamualaikum padamu…
Kau pasti tak tahu menahu
tentang perasaanku yang berbeda kepadamu, tapi jika kau memiliki tingkat
kepercayaan diri yang berlebih seperti pada laki-laki yang kukenal, kau akan
tau perasaanku, dengan melihat bagaimana caraku menatapmu, dengan melihat
bagaimana kau sering menangkap basah diriku tengah memperhatikanmu. Tapi tidak,
kupikir, kau tak tau itu. Karena mungkin bagimu aku hanyalah teman se-angkatanmu,
yang secara tidak sengaja se-komunitas di seni, yang tidak sengaja juga menjadi
anggota perkusi.
Apakah kau tau? Betapa
senangnya diriku ketika latihan secara kebetulan kau duduk disampingku? Ketika
kau memanggil namaku? Ketika kau meminta bantuan padaku? Ketika kau
mengamanahkan barang-barangmu padaku? Aku senang, bahagia.
Apakah kau tau? Di minggu
terakhir kita latihan, aku sedih. Sangat sedih. Karena kupikir, tidak ada lagi
kesempatanku untuk sering melihatmu, memperhatikanmu lebih lama. Apalagi ketika
kita tampil semalam, mungkin penampilan itu adalah kali terakhir kita bermain
perkusi bersama-sama.
Apakah kau tau? Ketika
melihatmu kelelahan karena mengurus ini itu, aku merasa sedih sekali, ingin
rasanya membantumu. Ketika melihatmu tidak fokus terhadap latihan, aku
khawatir. Baik-baik sajakah kau?
Apakah kau masih ingat?
Ketika kau bilang padaku “ku amanahkan ini kepadamu”. Ya, waktu itu rasanya aku
telah di beri tugas yang harus aku selesaikan dengan benar. Ketika itu rasanya
aku harus menjaga dengan baik apa yang kau amanahkan padaku. Rasanya itu adalah
barang berharga yang harus aku jaga hingga titik darah penghabisan, hehe.
Masih ingatkah kau? Sesaat
sebelum tampil, aku memasangkan plester ditanganmu. Sadarkah kau? Aku memegang
tanganmu seolah itu adalah milikku yang tidak boleh direbut orang. Aku
memasangkan dengan hati-hati seolah itu adalah sesuatu berharga yang jangan
sampai lecet.
Jangan katakan aku
berlebihan. Bukan aku, tapi perasaanku.
Aku selalu bertanya, masihkah
ada kesempatan untuk bisa sering melihatmu seperti kemarin?
Hei A ...! Aku suka padamu.
Dan perasaanku selalu mendorongku untuk terus melihatmu. Rasanya tenang.
Kumohon jangan marah…
Jika nanti kau tau tentang perasaanku
selama ini, ada hal yang harus kau lakukan. Jangan marah, jangan benci, dan jangan
menjauhiku. Jika bisa, balaslah perasaanku. O.o
Jangan berfikir aku
memaksakan kehendak, ini alami jika aku berharap kau juga suka padaku, tapi
itu hanyalah harapanku. Toh, sudah biasa
jika kenyataan tak sesuai dengan harapan.
Ada dua kemungkinan di masa
depan nanti. Bukan, peluang maksudku. Peluang aku di takdirkan denganmu adalah 1/2
dan peluang kau tidak ditakdirkan denganku
juga 1/2
. Kira-kira bagaimana,
ya?
Terima kasih karena telah
lahir, terima kasih juga karena telah datang ke Matematika.
Wassalam…
Your Secret Admirer~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar