Desember 15, 2017

Tentang Perasaan dan Perkusi #5




Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Bismillah.. hari ini 22 Oktober 2017 disaksikan oleh tanganku yang mengetik langsung tulisan ini, dikamarku. Aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Entah suatu saat nanti dia akan membacanya atau tidak.
Perasaanku kepadanya yang sering tidak keruan, belepotan, tidak tetap. Kadang aku sangat menyukainya, kadang aku benci padanya, dan kadang pula aku merindukannya. Ku akui, aku selalu ingin berada didekatnya, melihatnya. Jika harus memilih, berada di depan atau di belakangnya. Aku lebih memilih untuk melihatnya dari belakang, karena dengan berada di belakangnya, aku bisa lebih puas melihatnya tanpa dia ketahui. Karena perasaanku padanya mungkin sama seperti perasaan Fatimah kepada Ali, ada, dan diam-diam.
Jujur, jika ada kesempatan aku sering mencuri pandang padanya. Dan selalu kupilih jalan agar terus bisa melihatnya. Seperti ketika ada pemilihan komunitas seni di himpunan, awalnya aku berada di seni sastra, tapi saat ku tau dia berada di seni rupa, aku pindah walaupun pelatihan seni telah berjalan. Karena hal itu, aku harus mengejar ketertinggalan di seni rupa. Tapi itu tidak masalah bagiku, asalkan ketika pelatihan berjalan aku bisa melihatnya. Oh ya dia adalah satu-satunya anggota seni rupa yang tidak berjilbab (laki-laki, hehe). Hasil sketsa dia wow, membuatku tambah kagum.
Dan sekitar lebih dari sebulan yang lalu… ketika akan dilaksanakannya Pentas Seni angkatan 2016, semua teman-teman angkatan memilih penampilan yang akan dipentaskan nanti (pada kenyataannya tidak semua). Aku tidak tau kenapa memilih perkusi, waktu itu kupikir tidak ada salahnya mencoba hal baru yang akan membuatku terlihat perkasa (seperti kata seseorang yang ingin melihatku jadi perempuan perkasa). Dan hari itu, ternyata dia juga memilih perkusi. Daebak! Kataku dalam hati.
Selama lebih dari 30 hari itu, kami se-angkatan rutin latihan setiap hari mulai jam 16:00-20:00 WITA. Di saat-saat latihan itu pula, aku sering senyum-senyum sendiri (kau pasti tahu alasannya). Dia diamanahkan untuk menjadi leader di perkusi, dan aku sangat setuju dengan hal itu, dia mudah mengerti, pandai memainkan tempo, power-nya kuat, dia keren pokoknya.
Selama lebih dari 30 hari itu, ada banyak kenangan yang pasti menurutmu biasa saja. Tapi bagiku, apapun yang berurusan dengannya itu tidak biasa. Aku pernah membawakan topinya, pernah melipat kemejanya (sebenarnya itu kemeja pelatih, tapi dia yang memakainya), pernah menjaga tasnya, pernah membawakan sepatunya, dan pernah membawa lari motornya, hehe.
Moodbooster-ku di perkusi.
Aku sungguh tak tahu alasanku untuk suka padanya, sudah pasti bukan karena ketampanannya, dia sungguh tidak lolos dalam kriteria pria yang kusukai. Tapi karenanya, dengan melihatnya, ketampanan sudah tidak penting lagi bagiku.

Dan untukmu A ...
Assalamualaikum padamu…
Kau pasti tak tahu menahu tentang perasaanku yang berbeda kepadamu, tapi jika kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang berlebih seperti pada laki-laki yang kukenal, kau akan tau perasaanku, dengan melihat bagaimana caraku menatapmu, dengan melihat bagaimana kau sering menangkap basah diriku tengah memperhatikanmu. Tapi tidak, kupikir, kau tak tau itu. Karena mungkin bagimu aku hanyalah teman se-angkatanmu, yang secara tidak sengaja se-komunitas di seni, yang tidak sengaja juga menjadi anggota perkusi.
Apakah kau tau? Betapa senangnya diriku ketika latihan secara kebetulan kau duduk disampingku? Ketika kau memanggil namaku? Ketika kau meminta bantuan padaku? Ketika kau mengamanahkan barang-barangmu padaku? Aku senang, bahagia.
Apakah kau tau? Di minggu terakhir kita latihan, aku sedih. Sangat sedih. Karena kupikir, tidak ada lagi kesempatanku untuk sering melihatmu, memperhatikanmu lebih lama. Apalagi ketika kita tampil semalam, mungkin penampilan itu adalah kali terakhir kita bermain perkusi bersama-sama.
Apakah kau tau? Ketika melihatmu kelelahan karena mengurus ini itu, aku merasa sedih sekali, ingin rasanya membantumu. Ketika melihatmu tidak fokus terhadap latihan, aku khawatir. Baik-baik sajakah kau?
Apakah kau masih ingat? Ketika kau bilang padaku “ku amanahkan ini kepadamu”. Ya, waktu itu rasanya aku telah di beri tugas yang harus aku selesaikan dengan benar. Ketika itu rasanya aku harus menjaga dengan baik apa yang kau amanahkan padaku. Rasanya itu adalah barang berharga yang harus aku jaga hingga titik darah penghabisan, hehe.
Masih ingatkah kau? Sesaat sebelum tampil, aku memasangkan plester ditanganmu. Sadarkah kau? Aku memegang tanganmu seolah itu adalah milikku yang tidak boleh direbut orang. Aku memasangkan dengan hati-hati seolah itu adalah sesuatu berharga yang jangan sampai lecet.
Jangan katakan aku berlebihan. Bukan aku, tapi perasaanku.
Aku selalu bertanya, masihkah ada kesempatan untuk bisa sering melihatmu seperti kemarin?
Hei A ...! Aku suka padamu. Dan perasaanku selalu mendorongku untuk terus melihatmu. Rasanya tenang. Kumohon jangan marah…
Jika nanti kau tau tentang perasaanku selama ini, ada hal yang harus kau lakukan. Jangan marah, jangan benci, dan jangan menjauhiku. Jika bisa, balaslah perasaanku. O.o
Jangan berfikir aku memaksakan kehendak, ini alami jika aku berharap kau juga suka padaku, tapi itu  hanyalah harapanku. Toh, sudah biasa jika kenyataan tak sesuai dengan harapan.
Ada dua kemungkinan di masa depan nanti. Bukan, peluang maksudku. Peluang aku di takdirkan denganmu adalah 1/2  dan peluang kau tidak ditakdirkan denganku juga 1/2 . Kira-kira bagaimana, ya?
Terima kasih karena telah lahir, terima kasih juga karena telah datang ke Matematika.
Wassalam…
Your Secret Admirer~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law