Senin, 07 Agustus
2017; 8:14
Sudah menjadi ritual
dalam hari-hariku. Dirimu seperti gentayangan dalam otakku. Apa yang bisa
kulakukan dengan ini? Memori tentangmu terputar kembali bak film layar lebar.
Tak ada alasan dengan hal yang terus terjadi ini. Kau bukan lagi siapa-siapa
bagiku, begitupun denganmu, aku bukan apa-apa bagimu. Kau hanyalah histori-ku.
Bukan untuk disesali, tapi untuk dilupakan.
| Source: www.google.com |
Hatiku ngilu. Dengan
mengingat adanya sebuah perpisahan. Aku tak bisa mengelak rasa sedih yang
menampar hatiku jika aku mengingat hal itu. Tapi kata Dilan, rasa sedih jika
ada itu harus berbatas demi peluang munculnya hari-hari menyenangkan
selanjutnya.
Sederhana saja, tak
ada lagi yang kuharapkan darimu, tak ada lagi yang kuinginkan darimu. Hanya
saja, aku merasa sulit jika harus melenyapkan dirimu dalam pikiranku. Bagiku
hal itu lebih sulit dari mengerjakan soal-soal kalkulus tingkat lanjut. Kupikir
kau terlalu penting. Aku tau, inilah kebodohanku.
Seseorang mengatakan
aku tak bisa melupakanmu karena aku tak pernah mencoba untuk melupakanmu.
Bagaimana mencobanya? Apakah yang kulakukan selama ini bukan percobaan
melupakanmu? Apakah melupakanmu adalah pekerjaan mudah yang dilakukan hanya
dengan coba-coba, ya. Aku sedikit tidak setuju perihal ini. Dengar,ya. Tak semudah
membalikkan telapak tangan, eh.
Jujur saja, aku tak
peduli dengan siapa kau berpacaran sekarang. Aku tak peduli berapa banyak
pacarmu sekarang. Aku tak peduli seberapa bahagia kau mempermainkan
pacar-pacarmu. Tapi, Aku sangat peduli bagaimana kabarmu sekarang. Aku sangat
peduli kau pulang ke rumah jam berapa. Aku sangat peduli kau tidak terlibat
dari hal-hal yang akan merugikan dirimu, masa depanmu.
JN-ku. Aku peduli
denganmu.
-----------------------------OOO---------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar