![]() |
| history tweet by Ustadz @felixsiauw |
17 Desember 2017
Aku sekarang berada dikamarku. Dari jendela
kamarku kulihat langit berwarna abu-abu, diluar sedang hujan. Hujan turun dan
lagu kesukaanku Inka Christie - Gambaran Cinta mengiringi. Kuno? Iya memang.
Karena itu aku suka.
Membahas perihal suka, saat ini aku sedang
menyukai seseorang diam-diam. Semalam temanku bilang padaku “menyukai dalam
diam itu susah”, tapi bagiku itu tidak susah, tapi sulit. Mungkin kau yang
membaca ini bilang ‘Apa bedanya?’, bagiku itu berbeda. Dan kau harus mencari
sendiri perbedaannya jika kau penasaran. Rasanya sulit bertahan dengan perasaan
yang diam-diam.
Menyukai seseorang diam-diam itu pilihan. Kau
bisa saja memilih untuk mengungkapkan perasaanmu terhadap orang yang kau sukai.
Tapi tidak bagiku, aku memilih diam. Karena tidak banyak perempuan yang
memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan lebih dulu, karena perempuan
sudah ditugaskan untuk selalu menunggu dan menerima. Aku mengatakan sebab ini,
bukan karena ini merupakan alasanku. Ini hanya pendapatku tentang realita
sekarang ini.
Alasan aku menyukainya secara diam-diam adalah
karena hal itu memang sudah menjadi prinsipku sejak dulu. Sejak dulu aku lebih
memilih untuk bertahan dengan perasaan diam-diam itu, lebih memilih untuk
merasakannya sendirian, lebih memilih untuk menerima risikonya sendirian. Jika
begini, pasti kau yang membaca ini bertanya: ‘bagaimana dengan ungkapan
perasaan kepada pacar?’. Jawabannya itu tidak mungkin karena aku tidak pernah
dan tidak mau berpacaran. Alasannya simple, pacaran itu masalah. Dulu, ketika
aku masih kecil aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak berpacaran
sampai berumur 17 tahun, aku menepatinya. Dan ketika aku berumur 17 tahun, aku
berprinsip untuk tidak akan pacaran sebelum menikah. Let’s comeback to
quotes “No Khalwat, Before Akad”. Aku ingin, pacar pertama dan terakhirku
adalah suamiku kelak.
Kembali ke pembahasan awal: perasaan diam-diam.
Tunggu! Aku menjadi kurang yakin bahwa perasaanku
padanya masih bisa disebut diam-diam. Waktu itu hari senin, aku, Ilma, S***, kakakku, dan beberapa senior duduk di bale-bale Matematika. Ilma duduk
disamping S***,
dan aku duduk di dekat kakakku. Jarak kami berjauhan. Sehingga aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, aku hanya melihat S*** melihat ke arahku dan disusul Ilma.
dan aku duduk di dekat kakakku. Jarak kami berjauhan. Sehingga aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, aku hanya melihat S*** melihat ke arahku dan disusul Ilma.
Ilma menceritakan apa yang dibicarakannya dengan S*** ketika kami
sudah jalan pulang. Kira-kira seperti ini percakapan mereka:
S: “Kenapa itu aneh-anehki kulihat temanmu?”
I: “Siapa? Darmi?”
S: “Iya”
I:
“Kenapai? Karena pake jilbab langsungki?”
S: “Yang bagaimanaya itu jilbab langsungka?”
Haha, percakapan melenceng dari bahasan awal.
Aku tidak tau apa yang dimaksud Syarif yang mengatakan aku terlihat aneh.
Sampai suatu hari di Bantimurung pada 10 Desember 2017 saat Mubes. Aku duduk
ditangga, Caca berdiri memanggil S***. Ketika S*** datang, dia bilang ke
Caca, tapi melihat ke arahku dan mengatakan dengan tersenyum (ketawa?).
S: “Kenapai ini temanmu nah, aneh-anehki kulihat.
Semenjak sudah pensi.”
Saat itu aku tidak tau bagaimana ekspresiku
dihadapannya, atau bagaimana tanggapan Caca terhadapnya. Seolah hanya jasadku
yang tertinggal, dan rohku melayang entah kemana. Ketika aku benar-benar telah
sadar, S*** sudah pergi. Mungkin karena urusannya dengan Caca sudah selesai
(perihal acara mubes). Kulihat Caca tersenyum seperti akan mem-bully-ku.
Tapi tidak jadi, mungkin karena dia sedang sibuk dan akan mengurus sesuatu.
Tanggapan Caca perihal ini: “Ciyye, yang
berbalas.” (Apa Caca? Mustahil, ada do’inya weee)
Tanggapan Anti : “Astaga, Iyo? Aiiiih, natauki
bilang nusukaki.” (Sepertinya we Anti.)
Tanggapan Ilma: “Menurutku toh, biar dia
naperhatikanjko juga” (Iyo? Serius? Berarti pekaji? Perasaan nda pernahka
tunjukkan. Aih, nda bolehka terlalu PD. Nanti kebetulanji bilang)
Tanggapan Firda: -_- (Firda, tidak adakah yang
mau kau sampaikan? Haha)
Aku menyukainya, karena itu aku menjauhinya.
Rasanya, aku tidak mampu berhadapan langsung dengannya. Aku tak mampu
melihatnya dari dekat. Aku terlalu segan padanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar