Desember 12, 2017

Risiko Dalam Mencintai #2



12 Agustus 2017—20:21
Aku sekarang berada disini, dikamarku. Ditemani oleh lagu Sunyi Tetap Berdiri♪♪♪ yang dibawakan oleh One Feel. Mencoba berusaha terlihat baik-baik saja yang pada kenyataannya tidak. Egois memang.
 
Aku tidak baik-baik saja karena kau, mungkin? Hehe. Aku merindukanmu lagi, eh. Jika kau merasa bosan dengan rasa rinduku, maaf saja. Ini bukan keinginanku, malah aku tak pernah tau jika pada akhirnya perasaan yang ada ini hanya menghasilkan kerinduan yang tidak ada habisnya, Aku rindu kau JN.
Setelah benci ada cinta, setelah cinta ada rindu. Aku sekarang berada di tahap rindu. Benar-benar sulit untuk melewatinya. Aku berani bertaruh, kau pasti juga akan sulit melewatinya jika orang yang kau rindukan itu adalah orang yang pernah kau sayangi setengah mati, orang yang pernah memberikan kebahagiaan yang tak akan kau dapatkan dari orang lain, orang yang pernah memperjuangkanmu dan kau perjuangkan, orang yang kau cintai lebih dari dirimu sendiri.
Mungkin menurutmu aku terlalu berlebihan dalam menggambarkan  perasaanku, tapi itu terserah aku, aku tau diriku, aku tau perasaanku, dan beginilah perasaanku. Yang akan selalu rindu pada dirimu.
Mungkin saat ini kau sedang bersenang-senang dengan orang lain, mungkin kau juga tak pernah mengingatku walau sedetik, apalagi mengingat momen itu, momen kita yang sudah menjadi histori yang sudah kau lupakan. Seperti sesuatu yang tidak penting, yang mesti dilupakan agar memori otak terasa segar. Mungkin. Mungkin kau begitu.
Jika harus berkata jujur, sekarang aku tak mengharapkanmu berada didekatku. Aku hanya ingin kau di masa depanku. Seperti kau yang pernah menginginkanku di masa depanmu.
Aku melupakanmu dengan terus mengingat kejadian itu, kejadian yang mampu mengubek perasaanku hanya dengan beberapa detik adegan. Kejadian yang memilukan hatiku, mendorong mataku mengeluarkan cairan bening, mengubah bahagia menjadi sakit. Apakah kau tau JN? Aku melihatmu di tempat itu bersamanya. Kau dengan tersenyum menyanyikan sebuah lagu untuknya di iringi alunan gitarmu. Sepertinya kau bahagia saat itu, bersamaan dengan aku yang merasakan sakit dihati untuk kali pertama, dan itu karena dirimu.
Setelah itu aku sadar, aku bukanlah satu-satunya bagimu.
Kau tau? Setelah hari itu pula hari-hariku denganmu pun perlahan berubah. Kau mungkin santai-santai saja, namun aku khawatir, aku takut akan merasa sakit lagi.
Kau tau? Butuh waktu lama untuk memulihkan perasaanku kembali. Aku tak menyalahkanmu atas hal ini, kau tidak bersalah, sungguh.  Ini sudah menjadi takdir, untuk aku merasa sakit. Sudah menjadi sebuah risiko dalam mencintai.
Terlepas dari hal itu, hingga saat inipun perasaanku padamu masih tetap ada, dipupuk oleh ingatan masa lalu yang indah. Dan menghasilkan rasa rindu yang sekarang ini kurasakan, eh bukan, yang selama ini selalu kurasakan.
Sebenarnya, hanya dengan mengingat kejadian menyakitkan itu, aku belum bisa melupakanmu secara utuh, maaf, melupakan perasaan yang ada maksudku. Kupikir, ini karena bahagia yang kau berikan lebih besar dari rasa sakit karena kejadian itu. Rasa sakit itu hanyalah secuil jika dibandingkan dengan segunung rasa bahagiaku karenamu. Kupikir karena itu.
Terima Kasih, ya.
---------------------O.O----------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law