“Seorang lelaki adalah makhluk yang lemah. Tubuh kami
dikaruniai otot dan tenaga yang lebih besar dari kaum perempuan, untuk
melindungi hati dan perasaan kami yang gampang sekali rapuh menghadapi berbagai
cobaan di dalam kehidupan. Seperti Sang Bima dalam cerita wayang, kami semuanya
kelihatan kasar dan berangasan. Tetapi kami tak punya apa-apa lagi
selain kekasaran itu. Hanya itu bekal kami untuk menutupi diri kami yang serba
kurang. Barangkali itulah sebabnya kelima Pandawa di dalam wayang memerlukan
seorang Drupadi untuk mengetatkan simpulnya, sehingga kuat menghadapi cobaan
hidup. Jangan mengartikan itu sebagai ajaran untuk berbagi istri. Itu adalah
ajaran hidup, lambang penghormatan kepada wanita, betapa besarnya tenaga yang
tersimpan di dalam tubuh mereka.” (hal 43)
“Keperkasaan tidak bisa diukur dari jasmani saja, karena
perpaduan seimbang antara jasmani dan rohani juga adalah keperkasaan.” (hal 44)
“Jangan lupa, dalam merawat orang yang lemah, jangan
sekali-kali menunjukkan kekuatan, nanti dia akan bertambah lemah. Berjanjilah
akan menghormati kelemahan-kelemahannya. Penghormatanmu kepada kelemahannyalah
yang akan membuat ia menjadi perkasa.” (hal 46)
“Aku merindukan kamu. Seluruh jiwa dan tubuhku mengharapkan
kau kembali secepatnya. Jangan lari, karena kamu tidak akan pernah sampai. Yang
kamu butuhkan adalah sebuah rumah untuk pulang. Aku bersedia menjadi rumahmu.
Aku akan membahagiakan kamu. Apakah cinta begitu sulitnya, sehingga harus
menempuh jalan berliku-liku? Kenapa kita tidak berterus terang saja, bahwa kita
sebenarnya saling membutuhkan?” (hal 49)
“Menyesal itu tidak akan pernah terlambat. Semua penyesalan
akan memberikan kesempatan kepada kamu untuk memperbaiki. Sedetik pun, kalau
memang kamu pergunakan dengan baik, tetap akan punya arti.” (hal 255)
“Sekarang kamu tahu bahwa mencapai tujuan itu amat
melelahkan. Kau kehilangan arah dan fokus. Kamu juga kehilangan tenaga. Seluruh
energi dan kegagahanmu waktu mengejar hilang begitu saja, tertelan oleh
misteri. Kamu menjadi tak berdaya karena kamu sudah sampai. Sekarang kamu boleh
berpikir lagi. Mungkin perjalanan yang indah adalah perjalanan yang tak pernah
sampai. Kebebasan yang paling bebas adalah kebebasan yang cacat. Kemerdekaan
yang paling merdeka adalah ketidakmerdekaan. Kebahagiaan yang paling
membahagiakan adalah kegagalan.” (hal 360)
“Apa artinya sebuah ‘ya’, kalau terdengar seperti ‘tidak’,
bagi orang lain? Kebenaran menjadi sulit bukan karena memang tak mudah
menemukannya, tetapi terutama karena
orang sengaja menangkap yang lain. Sesuatu yang lebih membahagiakan, memang
lebih mudah diterima sebagai kebenaran.” (hal 436)
Novel seri kedua karya Putu Wijaya berjudul Putri ini, adalah novel
yang penuh dengan pelajaran hidup, memberikan pengalaman baru kepada setiap
orang yang membacanya. Sebuah novel yang berhasil menurutku. Pikiranku ikut
berpetualang kemana saja cerita dalam novel itu pergi.
Novel ini adalah novel terberat yang pernah kubaca dengan jumlah
halaman 596.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar