27
November 2017
18 tahun
4 hari yang lalu, hari itu hari selasa. Tepat jam 12 siang, di Taipale’leng,
kamarku.
Aku tak tahu kenapa memikirkan hal ini, tapi sebagian besar
otakku mengatakan aku mengharapkan do’a dari sahabat-sahabatku. Aku merindukan
sahabat lamaku, aku ingin bertemu mereka, menghapus rasa rindu yang beberapa
bulan belakangan ini seolah mencekikku, tidak memberi ruang kedamaian untuk aku
menikmati hari-hari bahagia bersama kawan-kawan baruku. Rindu! Benar kata
Dilan, rindu itu berat. Tapi aku adalah perempuan kuat, yang masih bertahan
hingga hari ini walaupun dihantui perasaan rindu, yang masih bertahan hingga
saat ini dengan perasaan cinta yang diam-diam.
Perihal memendam perasaan, itu tidaklah mudah. ‘Tak semudah
membalikkan telapak tangan’. Aku tak tahu siapa orang yang pertama kali
mengatakan itu, tapi aku cukup setuju dengannya.
Eh tunggu, tadi kusebutkan perasaan cinta yang diam-diam. Ini
kuralat, maksudku apa yang kurasakan padanya adalah perasaan yang tak mampu
dituliskan oleh kata, tak cukup dijelaskan oleh kalimat, tak terdefinisi, tanpa
kejelasan, tanpa titik akhir, tanpa arah, tanpa tujuan, cenderung mendiami
hati.
Tapi tetap saja, dengan menulis ini, dengan memikirkannya,
bibirku reflex tertarik hingga membentuk bulan sabit.
Ini adalah hari ketiga aku tidak melihatnya, entah dimana.
Aku pernah mendengar seseorang dalam drama yang pernah kunonton
berkata, beberapa hal terlihat bagai fantasi karena mereka begitu jauh, seperti
bintang-bintang. Begitulah dengan orang-orang yang begitu indah, mereka
menghilang dengan cepat.
Karena bagiku dia adalah orang indah itu, berarti cepat atau
lambat dia akan menghilang dari hadapanku. Memenuhi keinginanku tentang dirinya
juga hanya seperti fantasi kupikir, dan jika kujadikan sebuah cerita, mungkin
itu akan menjadi cerita fantasi dengan khayalan tinggi menghampiri batas.
Bayangkan saja, jika aku berharap menjadi seseorang berharga baginya kelak,
yang pada masa kini saja dia mungkin jarang menengok ke arahku, apalagi
memandangku, kan? Ini mungkin akan menjadi cerita cinta sepihak yang
menyedihkan.
Perihal dia akan menghilang,
Itu tidak apa-apa bagiku, asalkan ketika dia pergi, dia bisa
menemukan apa yang dia cari, mendapatkan apa yang dia ingin. Juga, asalkan ia
mampu menjaga diri dari hal-hal buruk, asalkan ia selalu berada dalam keadaan
yang baik-baik saja, baik jiwa raga maupun perihal hati dan perasaan. Asalkan
tak akan ada yang pernah menyakitinya, kubiarkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar