Assalamu alaikum warahmatullahi
wabarakatuh…
Aku ingin memperkenalkan orang-orang aneh yang sering
berkeliaran di sekitarku selama lebih dari setahun belakangan ini. Orang-orang
yang sering berbuat konyol yang kemudian akan membuatku betah berada didekat mereka,
orang-orang aneh karena masih mau dekat dengan orang seperti diriku. Mereka
yang aku ceritakan adalah orang-orang berharga dan berperan penting dalam
perjalanan kisah hidupku di bangku kuliah.
1.
Nurul
Ilma Islamiyah
Dia
sering kupanggil Ilma, kadang Mia, kadang Mo’nya. Dia berasal dari Selayar,
bapaknya asli kota Selayar, sedangkan ibunya dari Mataram. Aku akan bercerita
tentang ilma lebih banyak dari kawanku yang lain, kupikir ini karena waktu yang
kuhabiskan bersama ilma hampir 24 jam sehari-semalam (karena sering sekelas sejak
jadi mahasiswa). Aku juga memiliki banyak kesamaan dengannya, seperti suka
menulis, suka membaca novel, sama-sama anggota perkusi, sama-sama anggota UKM
Tapak Suci, sama-sama KOHATI, dan sama-sama suka dengan orang asli Bima, hehehe.
Ilma
ini suka berlebihan, suka berlebihan dalam hal berat badan maksudku. Tapi dia
orang yang baik, suka bertingkah layaknya anak kecil (mungkin ini karena dia
anak tunggal), suka memasang tampang sok imut (apalagi ketika sedang ada maunya). Kalau dia sedang marah, sebaiknya
hati-hati, ini karena dunia akan terguncang akibatnya. Kukatakan ini karena,
aku pernah melihatnya marah, dan itu ketika jemurannya basah karena hujan (dia
marah karena kita terlambat datang untuk menyelamatkan pakaiannya), dia
menggerutu dengan suara yang keras entah kepada siapa, mungkin aku, mungkin
seseorang, mungkin pakaiannya, mungkin dirinya sendiri, dan mungkin dengan
keadaan.
Dia
adalah kawan yang baik diajak bicara, rasanya ada timbal balik, apalagi
persoalan hati dan perasaan, dia adalah teman curhatku.
Dia
anak yang cerdas, percaya diri, dan beruntung. Dia sering menyebut-nyebut nama
Afgan (mungkin dia suka, hihi)
Ilma
tinggal di Pondok Faris kamar 106, dan disana pulalah markas kami jika telah
pulang dari kampus atau jika sedang ada jeda kuliah.
Ini dia
foto ilma, (jika kau penasaran).
2. Ummi Laras Afdaliah
Nah, ini. Dia sering kupanggil Caca, asli orang Pinrang. Dia
lahir 17 April 1999, punya seorang adik perempuan. Dia tinggal di Minasa Upa
atau yang biasa kawanku sebut MU. Dia suka bernyanyi, suka nonton film horror,
dan alhasil ketawanya juga mirip seperti kuntilanak di film horror.
Kawanku yang satu ini bisa dibilang cukup cantik (aku tidak
bisa terlalu memujinya, nanti dia akan
entahlah), laki-laki pasti akan betah melihat dia lama-lama (kecuali
laki-laki yang tidak normal), dia memiliki lesung pipit yang akan terlihat
ketika dia bicara maupun tersenyum, dia juga memiliki sebuah tahi lalat di atas
bibir yang menandakan dia adalah orang yang cerewet (dan memang itu sangat
betul). Dia adalah orang yang paling suka keberatan di antara kami berlima (kau
pasti tau versi keberatan menurutku)
Dia aktif di organisasi HMJ, dan juga seorang KOHATI.
Dia mengidolakan seorang BangKai (personil EXO) atau Kim
Jong In.
3. Firda Afriyanty Syam
Namanya
Firda, tinggal di Jl Syekh Yusuf, Gowa. Lahir ketika Indonesia sedang mengalami
inflasi yaitu tanggal 25 September 1998. Dia orang yang mudah baperan (sama
seperti Caca, aku, Ilma dan perempuan lain kebanyakan). Setiap kali sebelum
minum air gelas kemasan, dia selalu membuang airnya sedikit. Dia adalah seorang
penari yang handal, entah bagaimana dia melakukannya, tangannya seolah tak
bertulang jika dia mulai menari.
Aku
suka Firda, apalagi ketika dia mulai memata-matai moodbooster-ku yang
secara kebetulan sekelas dengannya, hehe.
Dia
memiliki seorang adik laki-laki bernama Firdaus (Daus) yang sekarang sudah SMA
kelas X. Firda & family adalah sekumpulan orang-orang baik, aku ingin
mengucapkan terima kasih sekaligus maaf karena sejak dulu hingga sekarang
sering merepotkan.
Ini dia
Firda.
4. Hasrianti
Dia
sering kupanggil Anti, sebenarnya dia maunya dipanggil Yanti, tapi entah kenapa
aku dan kawan-kawanku malas menyebut Yanti (mungkin supaya lebih pendek dan
gerakan mulut bisa dihemat dan jadilah Anti). Dia asli orang Enrekang, tau
Bahasa Bugis dan sedang mempelajari Bahasa Makassar (rempong, ‘kan?).
Dia
sekarang tinggal di Pondok Agung yang sebelumnya sudah 2 kali pindah tempat
tinggal.
Ketika
dia bercerita, kau sebaiknya belajar dan berusaha mengerti apa yang dia
katakan, ini karena dia sering menggunakan kalimat yang tidak jelas dan
berputar-putar yang hanya aku dan orang-orang tertentu lain yang akan mengerti.
Disemester 3 ini, dia sekelas dengan Caca.
Dia
yang paling ringan di antara kami berlima, sekaligus yang paling putih.
Sama
seperti aku dan Ilma, anti juga suka membaca Novel, dia juga pandai membuat
sketsa wajah (aku dan Anti se-komunitas di seni yaitu Seni Rupa).
Dan
inilah foto Anti.
Dan ya,
itulah orang-orang aneh yang kumaksud. Orang-orang terpilih yang ditakdirkan
Tuhan menjadi karena atas pertanyaan mengapa aku disini, mengapa aku bahagia
padahal harusnya sedih, mengapa aku senang padahal harusnya aku kesepian.
Aku
ingin bilang ke mereka: makasih, iya makasih saja. Maaf juga, karena ada banyak
kesalahan yang tidak seharusnya kulakukan.
Semoga
apa yang menjadi hubungan kita bisa bertahan untuk waktu yang lama, setidaknya
sampai menjadi nenek-nenek. Jika perpisahan datang, setidaknya kita harus
saling berkabar, agar hubungan kita tetap baik-baik saja, agar persahabatan ini
tetap menjadi hubungan layaknya persahabatan yang kata orang-orang abadi.
Jaket
kembar itu, hanyalah sebuah simbol, tanda, yang akan menjadi kenangan cindera
mata bahwa hubungan persahabatan ini ada.
Jangan
heran jika diantara kita sering terjadi perbedaan pemahaman yang menghasilkan
pertikaian, itu alamiah, bahkan menjadi pupuk tumbuhnya hubungan yang lebih
erat.
Jika
aku pernah bilang bahwa aku tidak apa-apa tanpa kalian, jika aku pernah bilang bahwa
aku bisa menjadi lebih baik tanpa kalian, itu berarti aku berbohong. Aku tidak
baik-baik saja tanpa kalian.
Mungkin
sekian, ini harus kuhentikan. Mianhae, Gomawo chingu. Sayang kalianlah.
Dari
kiri ke kanan, Aku, Caca, Anti, Ilma, dan FIrda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar