Desember 11, 2018

Garis Terdepan



Bilur makin terhampar, dalam rangkuman asa
Kalimat hilang makna, logika tak berdaya
Di tepian nestapa, hasrat terbungkam sunyi
Entah aku pengecut, entah kau tidak peka
Kumendambakanmu mendambakanku
Bila kau butuh telinga tuk mendengar
Bahu tuk bersandar raga tuk berlindung
Pasti kau temukan aku di garis terdepan
Bertepuk dengan sebelah tangan
Kau membuatku yakin, malaikat tak selalu bersayap
Biar saja menanti, tanpa batas tanpa balas
Tetap menjelma cahaya di angkasa
Yang sulit tertampik yang sukar tergapai
Kumendambakanmu mendambakanku
Bila kau butuh telinga tuk mendengar
Bahu tuk bersandar raga tuk berlindung
Akulah orang yang selalu ada untukmu
Meski hanya sebatas teman
Kuyakin kau temukan aku di garis terdepan
Bertepuk dengan sebelah tangan
Malam sedang hujan, dan aku sedang di kamar. Bersama garis terdepan dari Fiersa Besari, sebenarnya aku tidak ingin lagi membahas apa-apa yang berhubungan dengan bahasan ini. Tapi mendengar lagu dari Fiersa Besari, aku merasa tersinggung. Ia seolah menciptakan lagu ini sengaja untuk menghinaku, sengaja menjebakku di dalam jurang kesedihan dengan cara yang elegan. Ia seolah menyuarakannya dan memberitahu semesta tentang kenestapaan menjadi diriku. Dan beginilah, ia berhasil menggelitik radarku untuk segera menuangkan ceritaku dalam jajaran kata-kata.
                Terima kasih ya, kepada pencipta lagu ini. Terima kasih telah mencoba memberitahu, terima kasih telah mencoba memberiku sadar perihal posisiku. Aku tahu, manusia pasti akan merasakan bertepuk dengan sebelah tangan. Tapi aku juga tahu benar, tidak semua manusia sebegini nelangsa jalan panjang kisah cintanya. Tidak semua manusia sebegini alot cerita cinta sepihaknya.
Bukannya aku yang pengecut, bukannya dia yang tidak peka. Semua memang sudah digariskan untuk seperti ini. Aku sudah ditakdirkan untuk memberinya—tidak dengannya.
Aku tidak akan lagi—dengan bodohnya—mendambakan ia mendambakanku. Jika sudah tahu akhirnya akan seperti apa, untuk apa melanjutkan harap? Tidak akan kulakukan lagi! Percaya saja padaku—kali ini.
Kasusnya sama saja dengan hari itu, ketika aku mendengar bahwa dia akan pergi—ke suatu tempat—bersama orang itu. Kamu tahu jika menjadi diriku, akan lebih menyedihkan rasanya jika aku tetap tinggal dan melihatnya pergi. Jadi wajar saja aku  menjauh dari tempat itu secara tiba-tiba. Aku hanya mencoba melindungi perasaanku. Jika sudah tahu akan membawa rasa sakit, untuk apa tetap tinggal dan menyiksa diri sendiri? Jika sudah tahu akhirnya akan menjadi sakit, untuk apa tetap bertahan dan perlahan-lahan tersiksa sendiri?
Hm. Kalimat terakhir paragraf di atas sebenarnya telah menamparku telak. Tapi, biarkan saja. Aku tidak punya argumen lain untuk balas mematahkannya. Aku hanya sebatas teman yang bertepuk dengan sebelah tangan—kata Fiersa Besari. Biar saja menanti tanpa batas tanpa balas—katanya lagi.
-DYS-

1 komentar:

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law