Aku menyerah atas
sesuatu hal yang selama ini kulakukan.
Sesuatu
hal yang sia-sia saja jika temu masih terjadi melulu~
Aku tidak suka seseorang seperti dia. Harusnya aku
membencinya saja. Aku benci perokok. Aku benci orang-orang sibuk, mereka tidak
punya waktu untuk merasa rindu. Sedangkan aku, aku adalah perempuan yang selalu
merasa rindu. Dan aku membutuhkan seseorang yang juga merindukanku. Aku benci
merindukannya seorang diri. Aku benci perasaan sendiri. Aku benci merasakannya
sendirian. Tapi, tetap saja aku melakukannya. Aku tetap di sini, mencintainya,
rindu kepadanya. Entah mengapa.
Aku tahu, dia tidak akan pernah membalasnya. Tidak
ketika hatinya masih terisi oleh yang lain. Tidak ketika tatapnya tidak lekas
terlepas dari yang lain. Aku tahu. Bodohnya, aku masih tetap di tempat yang
sama. Menyukai sedalam-dalamnya. Entah mengapa.
Kukira dulu aku sudah berhenti. Ketika aku tidak lagi
mencari keberadaannya. Ketika aku tidak pernah lagi membicarakannya. Tapi
ternyata aku salah. Ketika dia muncul di depanku. Mencuri perhatianku yang aku
tahu dia tidak pernah bermaksud melakukannya. Ketika dia berdiri di depanku.
Menghancurkan sekat pertahanan yang selama ini kujaga untuk terlepas dari
perasaan aneh padanya. Ketika dia memanggil namaku, aku tersadar bahwa aku tak
mampu pergi.
Aku tidak tahu apa istimewanya kamu.
Jika boleh berkata jujur, aku belum menemukan alasan kenapa aku menjadi seperti
ini. Kenapa aku menjadi perempuan bodoh tak terkontrol. Ada satu sisi dimana
aku merasa benci padamu. Laki-laki tak berperasaan. Setidaknya beri aku
penjelasan. Atau, suruh aku berhenti agar aku berhenti. Berhenti dari segala
kegilaan akibat perasaanku yang selalu lepas kendali
Kemarin kupikir dengan membencimu perlahan-lahan
aku akan semakin acuh dan akhirnya menjadi tidak peduli. Nyatanya pikiranku
tidak bisa sejalan dengan realita. Semesta menghadapkanku pada keadaan yang
akhirnya memporak-porandakan kebencianku padamu. Aku tahu, aku gagal lagi.
Aku benci, tapi tidak bisa memaki. Aku
juga tidak tahu ingin memaki siapa jika saja aku bisa. Bukan sepenuhnya salah
semesta, bukan juga salahmu. Di titik ini akulah sang tersangka utama. Aku
membutuhkan penjara yang akan menghalangiku dari dunia luar. Aku butuh sekat untuk
menghalangi perasaan aneh kepadamu mendatangiku saat malam-malam sunyi menjadi
liar. Sudah menjadi kesalahanku karena sudah berani melakukannya sendiri. Aku
lemah. Aku bodoh. Aku terlalu memanjakan perasaanku.
Perempuan itu. Perempuan yang
membuatmu tak mampu mengalihkan tatap. Aku tahu namanya. Aku tahu dia jurusan
apa. Dan mungkin aku juga bisa menebak bagaimana kamu bisa bertemu dengannya.
Pernah sekali, suatu sore di tempat biasa kamu dan teman-teman menghabiskan
waktu, aku melihat perempuan itu, kualihkan pandanganku padamu. Memperhatikan
bagaimana reaksimu melihat sosok yang kamu sukai. Dan benar saja, sampai
perempuan itu menghilang ditelan jarak, tatapanmu tak juga lepas darinya. Kamu
tidak usah membayangkan bagaimana aku saat itu. Aku benci dikasihani, apalagi
itu darimu.
Hahaha, akhirnya aku melihatnya
sendiri. Aku menulis ini dengan tertawa. Lucu sekali ya aku ini. Bodoh juga.
Harusnya kan aku menangis. Orang yang kusukai menyukai orang lain, dibuktikan
oleh mataku sendiri. Terekam jelas dalam otakku. Tapi aku tidak bisa menangis. Tapi
juga bukan berarti aku tidak sedih. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana pilu
begitu berkecamuk dalam jiwaku. Rasanya hidupku abu-abu, aku tidak bersemangat,
aku juga mendadak ingin diet. Rasanya capek. Aku ingin berhenti. Tapi
bagaimana?
Jika saja hati bisa rusak jika sering tersakiti,
mungkin hatiku sekarang sudah koyak tidak berbentuk. Sudah punya penyakit
komplikasi. Mulai dari menyukai diam-diam, bertahan untuk mengekang rasa selama
hampir dua tahun lamanya, sampai pada akhirnya melihat orang yang disukai tidak
membalas perasaan karena dia menyukai yang lain.
Tapi aku sadar, aku tidak akan berada
di posisi itu. Posisi diberi. Aku hanya selalu memberi. Aku tidak akan berharap
apalagi meminta. Aku hanya akan merasakannya sendiri dan menerima kenyataan. Itulah
risiko menjadi diriku. Pihak yang diam-diam.
Tuan abu-abu, jika saja kamu mendengar
nyanyian-nyanyian senduku selama ini. Jika saja kamu membaca sajak-sajak piluku
selama ini. Aku yakin kamu akan lelah. Seperti aku, lelah rasanya seperti ini
untuk waktu yang lama. Tapi bagaimana aku bisa meyakinkan diriku untuk
benar-benar pergi darimu? Kepercayaan diriku untuk melakukan itu telah habis
karena kegagalan-kegagalanku. Aku mendadak menjadi orang yang tersesat. Aku
ingin melangkah tapi bingung harus melangkah kemana. Takut jika kupikir aku
akan beranjak pergi namun nyatanya aku hanya diam di tempat atau malah mundur ke belakang.
Kamu adalah penolong yang selama ini
selalu menemukanku ketika aku dalam kesusahan. Jadi sekarang bantu aku.
Setidaknya, yakinkan aku. Putih atau hitamkah kamu? Jangan biarkan aku terus
terjebak dalam keabu-abu-anmu. Tuan, I feel I’m dying. You must to show me your
real heart. Like me, I never lie that I’m in love with you. Your dream will be
my dream, your ambition will be my ambition, I’ll give you my everything, cause
you’re my everything. Without you, I’m just a stranger.
Tuan abu-abu, bolehkah aku bersikap
egois? Bolehkah aku menjadikan kamu sebagai penolong yang hanya ada untuk
diriku sendiri? Bolehkah aku menganggap penolong itu adalah milikku sendiri?
Sekali saja. Jika saja itu benar-benar terjadi, maka aku tidak akan membiarkan
seorangpun menyentuhnya. Sekali saja aku ingin bersikap egois. Menganggap
seseorang yang tak menganggapku sebagai milikku. Tuan abu-abu yang semu, masya,
Selamat Malam! Doakan aku agar segera berhenti—semesta sudah lelah memberiku
kabar bahwa aku harus berhenti sampai di sini.
--DYS--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar