Desember 07, 2018

Temu terjadi melulu tapi kamu masih saja semu



Aku menyerah atas sesuatu hal yang selama ini kulakukan.
Sesuatu hal yang sia-sia saja jika temu masih terjadi melulu~
Aku tidak suka seseorang seperti dia. Harusnya aku membencinya saja. Aku benci perokok. Aku benci orang-orang sibuk, mereka tidak punya waktu untuk merasa rindu. Sedangkan aku, aku adalah perempuan yang selalu merasa rindu. Dan aku membutuhkan seseorang yang juga merindukanku. Aku benci merindukannya seorang diri. Aku benci perasaan sendiri. Aku benci merasakannya sendirian. Tapi, tetap saja aku melakukannya. Aku tetap di sini, mencintainya, rindu kepadanya. Entah mengapa.
Aku tahu, dia tidak akan pernah membalasnya. Tidak ketika hatinya masih terisi oleh yang lain. Tidak ketika tatapnya tidak lekas terlepas dari yang lain. Aku tahu. Bodohnya, aku masih tetap di tempat yang sama. Menyukai sedalam-dalamnya. Entah mengapa.
Kukira dulu aku sudah berhenti. Ketika aku tidak lagi mencari keberadaannya. Ketika aku tidak pernah lagi membicarakannya. Tapi ternyata aku salah. Ketika dia muncul di depanku. Mencuri perhatianku yang aku tahu dia tidak pernah bermaksud melakukannya. Ketika dia berdiri di depanku. Menghancurkan sekat pertahanan yang selama ini kujaga untuk terlepas dari perasaan aneh padanya. Ketika dia memanggil namaku, aku tersadar bahwa aku tak mampu pergi.
Aku tidak tahu apa istimewanya kamu. Jika boleh berkata jujur, aku belum menemukan alasan kenapa aku menjadi seperti ini. Kenapa aku menjadi perempuan bodoh tak terkontrol. Ada satu sisi dimana aku merasa benci padamu. Laki-laki tak berperasaan. Setidaknya beri aku penjelasan. Atau, suruh aku berhenti agar aku berhenti. Berhenti dari segala kegilaan akibat perasaanku yang selalu lepas kendali
Kemarin kupikir dengan membencimu perlahan-lahan aku akan semakin acuh dan akhirnya menjadi tidak peduli. Nyatanya pikiranku tidak bisa sejalan dengan realita. Semesta menghadapkanku pada keadaan yang akhirnya memporak-porandakan kebencianku padamu. Aku tahu, aku gagal lagi.
Aku benci, tapi tidak bisa memaki. Aku juga tidak tahu ingin memaki siapa jika saja aku bisa. Bukan sepenuhnya salah semesta, bukan juga salahmu. Di titik ini akulah sang tersangka utama. Aku membutuhkan penjara yang akan menghalangiku dari dunia luar. Aku butuh sekat untuk menghalangi perasaan aneh kepadamu mendatangiku saat malam-malam sunyi menjadi liar. Sudah menjadi kesalahanku karena sudah berani melakukannya sendiri. Aku lemah. Aku bodoh. Aku terlalu memanjakan perasaanku.
Perempuan itu. Perempuan yang membuatmu tak mampu mengalihkan tatap. Aku tahu namanya. Aku tahu dia jurusan apa. Dan mungkin aku juga bisa menebak bagaimana kamu bisa bertemu dengannya. Pernah sekali, suatu sore di tempat biasa kamu dan teman-teman menghabiskan waktu, aku melihat perempuan itu, kualihkan pandanganku padamu. Memperhatikan bagaimana reaksimu melihat sosok yang kamu sukai. Dan benar saja, sampai perempuan itu menghilang ditelan jarak, tatapanmu tak juga lepas darinya. Kamu tidak usah membayangkan bagaimana aku saat itu. Aku benci dikasihani, apalagi itu darimu.
Hahaha, akhirnya aku melihatnya sendiri. Aku menulis ini dengan tertawa. Lucu sekali ya aku ini. Bodoh juga. Harusnya kan aku menangis. Orang yang kusukai menyukai orang lain, dibuktikan oleh mataku sendiri. Terekam jelas dalam otakku. Tapi aku tidak bisa menangis. Tapi juga bukan berarti aku tidak sedih. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana pilu begitu berkecamuk dalam jiwaku. Rasanya hidupku abu-abu, aku tidak bersemangat, aku juga mendadak ingin diet. Rasanya capek. Aku ingin berhenti. Tapi bagaimana?
Jika saja hati bisa rusak jika sering tersakiti, mungkin hatiku sekarang sudah koyak tidak berbentuk. Sudah punya penyakit komplikasi. Mulai dari menyukai diam-diam, bertahan untuk mengekang rasa selama hampir dua tahun lamanya, sampai pada akhirnya melihat orang yang disukai tidak membalas perasaan karena dia menyukai yang lain.
Tapi aku sadar, aku tidak akan berada di posisi itu. Posisi diberi. Aku hanya selalu memberi. Aku tidak akan berharap apalagi meminta. Aku hanya akan merasakannya sendiri dan menerima kenyataan. Itulah risiko menjadi diriku. Pihak yang diam-diam.
Tuan abu-abu, jika saja kamu mendengar nyanyian-nyanyian senduku selama ini. Jika saja kamu membaca sajak-sajak piluku selama ini. Aku yakin kamu akan lelah. Seperti aku, lelah rasanya seperti ini untuk waktu yang lama. Tapi bagaimana aku bisa meyakinkan diriku untuk benar-benar pergi darimu? Kepercayaan diriku untuk melakukan itu telah habis karena kegagalan-kegagalanku. Aku mendadak menjadi orang yang tersesat. Aku ingin melangkah tapi bingung harus melangkah kemana. Takut jika kupikir aku akan beranjak pergi namun nyatanya aku hanya diam di tempat atau  malah mundur ke belakang.
Kamu adalah penolong yang selama ini selalu menemukanku ketika aku dalam kesusahan. Jadi sekarang bantu aku. Setidaknya, yakinkan aku. Putih atau hitamkah kamu? Jangan biarkan aku terus terjebak dalam keabu-abu-anmu. Tuan, I feel I’m dying. You must to show me your real heart. Like me, I never lie that I’m in love with you. Your dream will be my dream, your ambition will be my ambition, I’ll give you my everything, cause you’re my everything. Without you, I’m just a stranger.
Tuan abu-abu, bolehkah aku bersikap egois? Bolehkah aku menjadikan kamu sebagai penolong yang hanya ada untuk diriku sendiri? Bolehkah aku menganggap penolong itu adalah milikku sendiri? Sekali saja. Jika saja itu benar-benar terjadi, maka aku tidak akan membiarkan seorangpun menyentuhnya. Sekali saja aku ingin bersikap egois. Menganggap seseorang yang tak menganggapku sebagai milikku. Tuan abu-abu yang semu, masya, Selamat Malam! Doakan aku agar segera berhenti—semesta sudah lelah memberiku kabar bahwa aku harus berhenti sampai di sini.
--DYS--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law