Desember 07, 2018

Friendzone!



Assalamuaalaikum!
Bahasan saya kali ini akan membuat siapapun yang mengalaminya merasakan sakit tapi tak berdarah jika membaca satu kata itu. Friendzone, saya terinspirasi membahas ini karena baru saja saya membaca salah satu novel karya Alnira yang akan mengingatkan saya tentang sebuah status hubungan yang lebih menyakitkan dari sekadar patah hati.
Di buku itu terdapat kutipan dari seseorang tanpa nama:
“Pengen jadi anak kecil lagi… yang  tahunya cuma timezone, yang nggak ngerti sakitnya friendzone, mantanzone, atau kakakadikzone”
“Apakah kau tahu, rasanya mencintai namun bertahan untuk tidak memiliki? Bertahan untuk tidak mengungkapkan? Percayalah ini lebih dari sekadar patah hati…”
“Friendzone itu, udah capek-capek ngasih lampu hijau ke gebetan. Eh dianya malah buta warna”
“Pergi bareng, makan bareng, dijemput boncengan, diperhatiin, curhat bareng, ketawa bareng, tapi sayang… friendzone…”
“Pacar ya pacar! Temen ya temen! Jangan temen rasa pacar. Bedenya tipis, tapi sakitnya dalam, bro!”
“Meeting you was fate, becoming your friend was choice, but falling in love with you was completely out of my control”
“kenapa move on itu susah? Karena dari SD sampai sekarang yang dipelajari adalah menghafal atau mengingat, bukan melupakan”
“Temen (n.) ikatan yang selalu menyenangkan sampai ditambatkan kata ‘cuma’ di depannya”
“Satu-satu, aku sayang kamu, dua dua, kamu sayang dia, tiga tiga, kita temenan aja, satu dua tiga, friendzone selamanya”
“I don’t know which is worse. Keeping your love for someone as a secret. Or telling them and risk being rejected”
“Kamu pikir aku sisir? Yang kamu cari pas hati kamu berantakan aja. Terus waktu semua udah rapi. Kamu lupa taruh dimana?”
“Berakit-rakit ke hulu. Berenang-renang ke tepian. Gimana mau ke penghulu. Kalau sampai sekarang masih temenan”
“Mereka bilang untuk membuatnya jatuh cinta, aku harus sering membuatnya tertawa. Tapi, tiap kali dia tertawa malah aku yang jatuh cinta”
“Kamu buat aku seneng. Besoknya hilang. Terus bikin aku seneng lagi. Terus besoknya kamu hilang lagi. Kamu datang dan pergi sesuka hati saja. Kamu mau ngajak bercanda ya?”
“Kalau diam itu emas, berarti aku sudah kaya. Karena sudah mencintaimu diam-diam”
“Friendzone. Semacam tidak memiliki namun takut kehilangan. Semacam tak punya status namun merasakan kecemburuan”
“Kalau tempat terbaik untuk pulang adalah rumah. Kenapa harus mampir? Kalau tempat ternyaman untuk kembali adalah kamu. Kenapa harus yang lain?”
“Ada yang bilang menunggu itu menyakitkan. Sementara yang lain bilang melupakanlah yang menyakitkan. Tapi yang paling menyakitkan adalah tidak tahu apakah harus menunggu atau melupakan”
“Jangan suka datang tiba-tiba. Kalau hanya untuk berkunjung sebentar lalu pergi”
“Bukan janjinya, tapi komitmennya. Bukan kata manisnya, tapi kepastiannya. Bukan hartanya, tapi tanggung jawabnya. Bukan gayanya, tapi kepribadiannya. Bukan gelarnya, tapi ilmunya. Bukan usianya, tapi kedewasaannya”—Bejana Kehidupan
“Tidak salah ketika harus menunggu, karena pada dasarnya, hidup memang menunggu… Menunggu kamu lamar atau aku dilamar?!”—Mara Account
“Bila cinta ibarat bunga, maka ia tak selalu bermekaran. Ada masanya ia dihempas hujan, diterpa beliung atau disengat mentari”—Sobar D. Prabowo
Siapa yang berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal namun hati tersobek-sobek dengan menulis kutipan itu? Kuucapkan terima kasih tak terhingga.
Di buku itu juga ada kutipan dari penulisnya sendiri, Alnira:
“Yang cowok nggak PEKA. Yang cewek GENGSI. Gitu aja terus sampai ladang gandum dihujani cokelat”
“Pilih mana? Ada rasa tapi nggak ada status. Atau, ada status tapi nggak ada rasa?”
“Sejak kamu datang dan masuk dalam kehidupanku. Aku merasa nyaman. Dan itu membuat aku tidak lagi tertarik dengan siapapun. Selain kamu… iya kamu…”
“Kalau pacaran cuma bisa ngomong ‘selamat pagi dan selamat siang’, datang aja ke bank, dapet tambahan kalimat ‘hati-hati di jalan’ lagi!”
“Mungkin jodoh tak datang tepat waktu. Tapi dia datang di waktu yang tepat. Saat keduanya telah sama-sama siap untuk menjalani jalan panjang yang penuh liku”
Adalagi hal yang berhasil menjentik hati,
                                Zona-zona berbahaya di dunia:
1.    Friend-zone: ketika lo suka sama temen lo, tapi dia cuma anggep lo temen, nggak lebih.
2.    Family-zone: ketika lo suka sama gebetan lo, dan dia cuma anggep lo kakak/adik doang.
3.    Betadine-zone: Ini zona paling miris. Dia dateng ketika dia sedang terluka aja, setelah itu lo ditinggalkan.
4.    Rest area-zone: zona dimana dia datang ketika dia sedang capek sama pacarnya, lo cuma jadi tempat transit doang.
5.    Insomnia zone: dia datang ketika dia lagi nggak bisa tidur, suka chat dan telepon lo tengah malam doang.
6.    Charger-zone: dia datang bukan karena dia butuh dan siap tapi dia ngerasa kosong. Butuh karena kosong tapi belum siap pacaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law