Februari 17, 2018

Kekacauan Tak Berujung, Kepadamu yang Tak Seharusnya #4


Parangbanoa, 14 Februari 2018. 21:48 WITA
Aku kembali kepada diriku yang tak berarah, tak tahu tujuan, linglung. Kukira aku terlalu keras memikirkannya. Dia yang tak seharusnya.
Rasa rinduku yang masih tertinggal, berubah menjadi rasa yang terlarang untuk hadir kembali.  Kupikir kau sudah tahu sebabnya. Sudah kubilang dia telah memiliki orang lain dihatinya. Sudah sejak dulu, sebelum aku datang ke kehidupannya. Tak ada yang mampu menggantikannya, apalagi oleh orang seperti diriku. Apalah aku?
Tak ada lagi pendekatan, hilanglah harapan-harapan. Aku jauh darinya, hatiku sudah jauh. Kau mungkin menganggapku lebay, tapi kupikir semua orang akan begitu jika sudah berbicara perihal hati dan perasaan, perihal cinta dan rindu, perihal takdir dan keinginan.
Aku yang masih bingung di persimpangan jalan, berdiri di antara takdir dan keinginanku bersama dengannya di hari esok. Aku yang masih diambang kesulitan untuk membedakan mana keegoisan dan mana kesabaran menerima nyata.
Ambil saja dirinya, aku ikhlas. Asalkan beri aku seseorang seperti dia, meskipun itu mustahil. Kau harus melakukannya, sudah menjadi risiko mengambilnya.
Ketakutanku akan kehilangan akal, ketakutanku untuk bertindak melebihi batas, ketakutanku untuk masih memelihara rasa yang tak seharusnya muncul mengambil alih ketenangan untuk aku menikmati masa liburan yang sedari awal sudah terencana. Peristiwa 1 Februari itu benar-benar menguasai pikiranku, memberi lubang dalam hatiku. Tidak memberiku kesempatan menyelami kebahagiaan di musim kesayanganku. Kacau! Aku menjadi kacau.
Siang itu hujan baru saja reda, suasana bisa menjadi begitu romantis andai saja aku bersama seseorang yang istimewa. Tapi saat itu aku sedang bersama sahabatku, masih dalam perjalanan aku mendengarnya.
Sesak, hatiku sesak karenanya. Perih, mataku menjadi perih akibatnya. Tapi tenang saja, aku menikmatinya dengan tersenyum. Ya walaupun ada sisa-sisa air mata di pipi.
-DarmianiYS-
Perindu yang menunggu embusan angin membawa rasa pergi jauh.
Di bawah ini adalah catatanku tahun 2017 lalu untuk dia, iya dia, seseorang yang tak seharusnya kusebut dia. Setelah membacanya, aku akan setuju jika kau mengatakan aku bodoh dalam memutuskan hal waktu itu.
15 November 2017. 19:23 WITA. Parangbanoa.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Selamat malam, ini tulisan ketigaku untukmu. Yang pertama kutulis tepat sehari setelah pentas seni kita, dan yang kedua kutulis tadi malam.
Aku berharap kau bisa membaca ini, tidak sekarang, tapi nanti. Aku akan menunggu hari itu. Hari dimana kau bisa menyadari bahwa ada aku disini, untukmu.
Sudah 10 bulan, dan sampai sekarang aku masih tetap bertahan pada perasaan itu. Perasaan yang diam-diam dan dipendam. Karena harusnya memang seperti itu ’kan? Perempuan sudah ditakdirkan begitu ‘kan?
Sebenarnya, sudah seharusnya semua ini kuhentikan. Karena ada 3 hal dan kejadian yang mencoba menjelaskan kepadaku, bahwa kau sudah memiliki seseorang yang kau mau. Jangan tanya padaku mengapa tidak kuhentikan, please. Kau mau tau apa ketiga itu?
Pertama, ketika pelatihan seni rupa (sketsa). Kau sedang tidak ada dikelas, tapi tas dan sketsamu ada. Saat kuambil sketsamu untuk kulihat, dibawah sketsa Kak Arif, ada sketsa seorang perempuan yang belum jadi. Saat kau datang kembali, teman-teman bertanya siapa perempuan di sketsa itu, kau jawab ‘ibuku’. Aku tau kau bohong, itu tidak tampak seperti wanita tua. Dan lagi, itu tidak mirip seperti ibumu. Perasaanku separuh kagum dan separuh sedih.
Kedua, ketika sedang mengecat ember perkusi di Gedung PKK. Irwan dan Alma mengecat ember plastik, Ilma dan Risman mengecat ember kaleng, aku dan kamu mengecat stan botol. Kakak Heri yang menjadi saksi mata atas ketiga pasangan cat ini. Waktu itu Irwan bilang “pasang-pasangan huhui”, kak Heri ikut menimpali, tapi lalu bilang “Ih kalau S***, adami”. S***, itu adalah 1 kalimat yang terdiri dari 4 kata tapi mampu memberiku penjelasan, bahwa tak seharusnya aku menyukaimu lagi, harusnya aku tak memulai rasa ini sedari awal, harusnya kuhentikan sejak kulihat sketsa itu. S***, 4 kata sederhana ini seketika mampu melunturkan senyum diwajahku, menjatuhkan harapanku untuk dirimu suatu nanti. Sedih sekali rasanya.
Ketiga, ketika sedang rapat di Gedung C. Firda menceritakan apa yang terjadi di kelasmu ketika pelajaran Pemrograman Komputer (C++). Kau ingat yang mana? Itu ketika kau menjawab pertanyaan Kak Irwan, ketika kau bilang bahwa kau sudah memiliki calon untuk kau jadikan makmum-mu nanti. Kau tau S***, Itu adalah kabar paling sedih dari Firda yang pernah kudengar. Dengan kabar ini juga, tanpa diketahui oleh kawanku, mataku berair. Baru kusadari ketika kusentuh pipiku, hanya sebutir, tenang saja.
3 hal itu menegaskan, bahwa kau memang benar-benar memiliki sebuah hubungan dengan seseorang. Walaupun aku tau hal itu, tetap saja aku suka melihatmu. Sampai sekarang.
Terima kasih lagi, kau yang terbaik!
Your Secret Admirer.
Biar ku perjelas, dalam catatan itu, di paragraf kedua dari akhir, kata ‘sekarang’ untuk November 2017, bukan ‘sekarang’ pada saat ini. Sekarang aku tidak ingin lagi melihat dia terlalu lama, bukannya tidak suka, hanya saja aku ingin menghentikannya. Menghentikan apa-apa yang pernah berjalan di luar kendali dan emosiku.
Aneh ya, aneh saja aku ingin menghentikan sesuatu yang kurasa tak pernah aku mulai. Ya walaubagaimanapun, terima kasih kepada apa-apa yang setahun ini menjadi alasan untuk aku merasa senang, terima kasih kepada dia, sang moodbooster.
Selamat tinggal harapan, selamat tinggal jagad khayalan, selamat tinggal angan-angan.
Menjauh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law