Parangbanoa, 14 Februari
2018. 21:48 WITA
Aku kembali kepada diriku yang tak berarah, tak tahu
tujuan, linglung. Kukira aku terlalu keras memikirkannya. Dia yang tak
seharusnya.
Rasa rinduku yang masih tertinggal, berubah menjadi
rasa yang terlarang untuk hadir kembali.
Kupikir kau sudah tahu sebabnya. Sudah kubilang dia telah memiliki orang
lain dihatinya. Sudah sejak dulu, sebelum aku datang ke kehidupannya. Tak ada
yang mampu menggantikannya, apalagi oleh orang seperti diriku. Apalah aku?
Tak ada lagi pendekatan, hilanglah harapan-harapan. Aku
jauh darinya, hatiku sudah jauh. Kau mungkin menganggapku lebay,
tapi kupikir semua orang akan begitu jika sudah berbicara perihal hati dan
perasaan, perihal cinta dan rindu, perihal takdir dan keinginan.
Aku yang masih bingung di persimpangan jalan, berdiri
di antara takdir dan keinginanku bersama dengannya di hari esok. Aku yang masih
diambang kesulitan untuk membedakan mana keegoisan dan mana kesabaran menerima
nyata.
Ambil saja dirinya, aku ikhlas. Asalkan beri aku
seseorang seperti dia, meskipun itu mustahil. Kau harus melakukannya, sudah
menjadi risiko mengambilnya.
Ketakutanku akan kehilangan akal, ketakutanku untuk
bertindak melebihi batas, ketakutanku untuk masih memelihara rasa yang tak
seharusnya muncul mengambil alih ketenangan untuk aku menikmati masa liburan
yang sedari awal sudah terencana. Peristiwa 1 Februari itu benar-benar
menguasai pikiranku, memberi lubang dalam hatiku. Tidak memberiku kesempatan
menyelami kebahagiaan di musim kesayanganku. Kacau! Aku menjadi kacau.
Siang itu hujan baru saja reda, suasana bisa menjadi
begitu romantis andai saja aku bersama seseorang yang istimewa. Tapi saat itu
aku sedang bersama sahabatku, masih dalam perjalanan aku mendengarnya.
Sesak, hatiku sesak karenanya. Perih, mataku menjadi
perih akibatnya. Tapi tenang saja, aku menikmatinya dengan tersenyum. Ya
walaupun ada sisa-sisa air mata di pipi.
-DarmianiYS-
Perindu yang menunggu embusan angin membawa rasa pergi
jauh.
Di bawah ini adalah catatanku tahun
2017 lalu untuk dia, iya dia, seseorang yang tak seharusnya kusebut dia. Setelah
membacanya, aku akan setuju jika kau mengatakan aku bodoh dalam memutuskan hal
waktu itu.
15
November 2017. 19:23 WITA. Parangbanoa.
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh...
Selamat malam, ini tulisan ketigaku untukmu.
Yang pertama kutulis tepat sehari setelah pentas seni kita, dan yang kedua
kutulis tadi malam.
Aku berharap kau bisa membaca ini, tidak
sekarang, tapi nanti. Aku akan menunggu hari itu. Hari dimana kau bisa
menyadari bahwa ada aku disini, untukmu.
Sudah 10 bulan, dan sampai sekarang aku masih
tetap bertahan pada perasaan itu. Perasaan yang diam-diam dan dipendam. Karena
harusnya memang seperti itu ’kan? Perempuan sudah ditakdirkan begitu ‘kan?
Sebenarnya, sudah seharusnya semua ini
kuhentikan. Karena ada 3 hal dan kejadian yang mencoba menjelaskan kepadaku,
bahwa kau sudah memiliki seseorang yang kau mau. Jangan tanya padaku mengapa
tidak kuhentikan, please. Kau mau tau apa ketiga itu?
Pertama, ketika pelatihan seni rupa (sketsa).
Kau sedang tidak ada dikelas, tapi tas dan sketsamu ada. Saat kuambil sketsamu
untuk kulihat, dibawah sketsa Kak Arif, ada sketsa seorang perempuan yang belum
jadi. Saat kau datang kembali, teman-teman bertanya siapa perempuan di sketsa
itu, kau jawab ‘ibuku’. Aku tau kau bohong, itu tidak tampak seperti wanita
tua. Dan lagi, itu tidak mirip seperti ibumu. Perasaanku separuh kagum dan
separuh sedih.
Kedua, ketika sedang mengecat ember perkusi di
Gedung PKK. Irwan dan Alma mengecat ember plastik, Ilma dan Risman mengecat
ember kaleng, aku dan kamu mengecat stan botol. Kakak Heri yang menjadi saksi
mata atas ketiga pasangan cat ini. Waktu itu Irwan bilang “pasang-pasangan huhui”,
kak Heri ikut menimpali, tapi lalu bilang “Ih kalau S***, adami”. S***, itu
adalah 1 kalimat yang terdiri dari 4 kata tapi mampu memberiku penjelasan,
bahwa tak seharusnya aku menyukaimu lagi, harusnya aku tak memulai rasa ini
sedari awal, harusnya kuhentikan sejak kulihat sketsa itu. S***, 4 kata
sederhana ini seketika mampu melunturkan senyum diwajahku, menjatuhkan
harapanku untuk dirimu suatu nanti. Sedih sekali rasanya.
Ketiga, ketika sedang rapat di Gedung C. Firda
menceritakan apa yang terjadi di kelasmu ketika pelajaran Pemrograman Komputer
(C++). Kau ingat yang mana? Itu ketika kau menjawab pertanyaan Kak Irwan,
ketika kau bilang bahwa kau sudah memiliki calon untuk kau jadikan makmum-mu
nanti. Kau tau S***, Itu adalah kabar paling sedih dari Firda yang pernah
kudengar. Dengan kabar ini juga, tanpa diketahui oleh kawanku, mataku berair.
Baru kusadari ketika kusentuh pipiku, hanya sebutir, tenang saja.
3 hal itu menegaskan, bahwa kau memang
benar-benar memiliki sebuah hubungan dengan seseorang. Walaupun aku tau hal
itu, tetap saja aku suka melihatmu. Sampai sekarang.
Terima kasih lagi, kau yang terbaik!
Your Secret Admirer.
Biar ku perjelas, dalam catatan itu, di paragraf kedua
dari akhir, kata ‘sekarang’ untuk November 2017, bukan ‘sekarang’ pada saat
ini. Sekarang aku tidak ingin lagi melihat dia terlalu lama, bukannya tidak
suka, hanya saja aku ingin menghentikannya. Menghentikan apa-apa yang pernah
berjalan di luar kendali dan emosiku.
Aneh ya, aneh saja aku ingin menghentikan sesuatu yang
kurasa tak pernah aku mulai. Ya walaubagaimanapun, terima kasih kepada apa-apa
yang setahun ini menjadi alasan untuk aku merasa senang, terima kasih kepada
dia, sang moodbooster.
Selamat tinggal harapan, selamat tinggal jagad
khayalan, selamat tinggal angan-angan.
Menjauh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar