Februari 06, 2018

Kabar Burung yang Membawa Tombak #3



Parangbanoa, 02 Februari 2018. 09:04 WITA
Pada awalnya, jatuh cinta sendirian. Dan akhirnya, merasakan sakit sendirian pula. Nalarku sudah bisa menebaknya. Tapi aku masih saja melanjutkan perasaan diam-diam ini. Aku kurang peduli oleh apa yang akan aku rasakan kedepannya. Saat ini kupikir aku sedang tidak waras. Pikiranku diselimuti olehnya, namun akal sehatku sering mengingatkan oleh kenyataan bahwa dia telah dijodohkan.
Apa yang bisa kulakukan selain mencoba menghilangkan rasaku padanya? Apapun yang kulakukan, itu tidak akan mengubah fakta bahwa dia telah memiliki seseorang yang menunggu pulangnya. Entah dimana, mungkin jauh di sana, mungkin juga dekat di sini.
Perihal dijodohkan, bagiku itu adalah hal yang benar-benar sakral, sudah tidak bisa diganggu gugat. Sudah memiliki kejelasan dan tidak lagi dipertanyakan. Dan aku bukanlah seseorang yang pantas mempertanyakannya, apalagi membicarakannya. Aku bukanlah apa-apa baginya, ya, walaupun dia apa-apa bagiku. Tapi tenang saja, sudah menjadi prinsipku untuk tidak memiliki rasa pada seseorang seperti dia yang sudah memiliki hubungan yang jelas dengan orang lain.
Perihal mengakhiri sesuatu hal yang bahkan belum memiliki awal. Itu sudah menjadi risiko memiliki perasaan diam-diam, perasaan sendirian, perasaan tak berbalas. Terima tidak terima, ya harus menerima. Mau tidak mau ya harus mau. Sudah risiko bukan?
Mengikhlaskan! Tidak, aku bahkan tidak pantas untuk mengatakan aku akan mengikhlaskannya. Dia bukan milikku, dia hanya temanku, teman se-angkatanku, tidak lebih.
Aku tak bisa mengelak rasa sedih yang sering muncul, tapi aku juga tidak bisa terlarut dalam kesedihan akibat kesalahan sendiri. Sebab aku tau, perjalanan masih sangat panjang. Aku percaya bahwa suatu saat akan datang hari dimana cahaya terang datang untuk menyembuhkan luka.
Rasa sakit yang ada, itu akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu berjalan. Rasa sakit yang ada, itu bukan kesalahan dia, bukan kesalahan orang lain, tapi kesalahan diri sendiri. Kenapa aku mau padanya dulu? Itu kesalahanku. Karena perasaan itu labil, tidak konstan, sering berubah-ubah. Kau yang membaca ini harus mengerti, bahwa kesalahanku bukan disengaja, aku juga manusia biasa yang sering tidak mampu mengontrol perasaan.
Kegagalan dalam cinta itu sudah biasa, sudah sering dituliskan dalam lirik lagu lama, sudah sering ditayangkan dalam serial drama dan film. Tapi setelah itu akan bahagia juga, karena kita hidup tidak hanya selalu gagal, pasti akan ada bahagianya juga. Dan walaupun seseorang gagal dalam cinta, dia tetap harus melanjutkan hidup.  Karena hidup bukan hanya persoalan cinta.
Selamat malam seperti apa yang harus kuucap pada kau yang tidak boleh kusukai lagi?,-
Terima kasih karena telah datang ke Matematika!,-
-DarmianiYS-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law