Parangbanoa, 02 Februari
2018. 09:04 WITA
Pada awalnya, jatuh cinta
sendirian. Dan akhirnya, merasakan sakit sendirian pula. Nalarku sudah bisa
menebaknya. Tapi aku masih saja melanjutkan perasaan diam-diam ini. Aku kurang
peduli oleh apa yang akan aku rasakan kedepannya. Saat ini kupikir aku sedang
tidak waras. Pikiranku diselimuti olehnya, namun akal sehatku sering
mengingatkan oleh kenyataan bahwa dia telah dijodohkan.
Apa yang bisa kulakukan
selain mencoba menghilangkan rasaku padanya? Apapun yang kulakukan, itu tidak
akan mengubah fakta bahwa dia telah memiliki seseorang yang menunggu pulangnya.
Entah dimana, mungkin jauh di sana, mungkin juga dekat di sini.
Perihal dijodohkan,
bagiku itu adalah hal yang benar-benar sakral, sudah tidak bisa diganggu gugat.
Sudah memiliki kejelasan dan tidak lagi dipertanyakan. Dan aku bukanlah
seseorang yang pantas mempertanyakannya, apalagi membicarakannya. Aku bukanlah
apa-apa baginya, ya, walaupun dia apa-apa bagiku. Tapi tenang saja, sudah
menjadi prinsipku untuk tidak memiliki rasa pada seseorang seperti dia yang
sudah memiliki hubungan yang jelas dengan orang lain.
Perihal mengakhiri
sesuatu hal yang bahkan belum memiliki awal. Itu sudah menjadi risiko memiliki
perasaan diam-diam, perasaan sendirian, perasaan tak berbalas. Terima tidak
terima, ya harus menerima. Mau tidak mau ya harus mau. Sudah risiko bukan?
Mengikhlaskan! Tidak, aku
bahkan tidak pantas untuk mengatakan aku akan mengikhlaskannya. Dia bukan
milikku, dia hanya temanku, teman se-angkatanku, tidak lebih.
Aku tak bisa mengelak rasa sedih yang
sering muncul, tapi aku juga tidak bisa terlarut dalam kesedihan akibat
kesalahan sendiri. Sebab aku tau, perjalanan masih sangat panjang. Aku percaya
bahwa suatu saat akan datang hari dimana cahaya terang datang untuk
menyembuhkan luka.
Rasa sakit yang ada, itu akan sembuh
dengan sendirinya seiring waktu berjalan. Rasa sakit yang ada, itu bukan
kesalahan dia, bukan kesalahan orang lain, tapi kesalahan diri sendiri. Kenapa
aku mau padanya dulu? Itu kesalahanku. Karena perasaan itu labil, tidak
konstan, sering berubah-ubah. Kau yang membaca ini harus mengerti, bahwa
kesalahanku bukan disengaja, aku juga manusia biasa yang sering tidak mampu
mengontrol perasaan.
Kegagalan dalam cinta itu sudah biasa,
sudah sering dituliskan dalam lirik lagu lama, sudah sering ditayangkan dalam
serial drama dan film. Tapi setelah itu akan bahagia juga, karena kita hidup
tidak hanya selalu gagal, pasti akan ada bahagianya juga. Dan walaupun
seseorang gagal dalam cinta, dia tetap harus melanjutkan hidup. Karena hidup bukan hanya persoalan cinta.
Selamat
malam seperti apa yang harus kuucap pada kau yang tidak boleh kusukai lagi?,-
Terima kasih karena telah
datang ke Matematika!,-
-DarmianiYS-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar