Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Parangbanoa, 18 Januari 2020.
#Now Playing : Ada Rindu Untukmu – Vanni Vabiola
Perkenalkan saya Darmi, mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar di Desa Tanrara, inilah saya bersama pesan-pesan pengakuan rahasia yang selama ini hanya hadir dalam kepala. Sejujurnya saya merasa kurang enak sama teman-teman posko karena selalu menegur perihal testimoninya yang belum selesai, padahal saya sendiri baru kerja hari ini (setelah mereka mengirim testimoni masing-masing :D)
Menurut referensi Google KKN atau Kuliah Kerja Nyata merupakan perwujudan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat. Dan Menurutku KKN adalah suatu masa dimana seseorang akan menghadapi dunia baru, mulai dari suasana, rekan kerja, sampai pada kebiasaan. Semuanya baru, dan tergantung bagaimana kita mampu beradaptasi dengan hal baru tersebut. 45 hari adalah waktu yang singkat untuk menghadirkan cerita baru, namun meskipun masa KKN kami begitu singkat tetap saja telah tercipta kenangan yang tentu saja masuk dalam daftar unforgettable moments- kehidupanku.
Posko 8 Desa Tanrara KKN UINAM 61, dengan mahasiswa sejumlah 7 orang, Rijal sebagai Koordinator Desa (Kordes), saya sendiri sebagai sekretaris, Reski sebagai Bendahara, dan ke empat anggota kakanda senior (Muh Anugrah Ramadhan), Hikma, Irma, dan Nasywa. Kami tinggal di rumah Kepala Desa Tanrara yaitu Ayahanda Hamjah Dg Lallo, terima kasih telah menerima kami selama 45 hari, bapak adalah kepala desa terbaik se-kecamatan Bontonompo Selatan. Ibu Desa selaku orang tua kedua kami, Siti Mardiah, S.Pd Dg Ratu, beliau adalah orang yang paling perhatian kepada kami, sangat baik, tak pernah marah walaupun kami seringkali melakukan kesalahan, bu, terima kasih banyak, asal ibu tahu saya menulis ini dengan air mata yang tak berhenti jatuh. Kemudian Dg Ngasseng, beliau adalah saudara dari ibunda ibu desa Tanrara. Pada beliaulah kami bertanya jika sedang ingin mengetahui sesuatu, pada beliaulah kami meminta jika membutuhkan sesuatu, dan bersama beliaulah waktu 45 hari di posko banyak kami habiskan.
Rabu, 27 November 2019 sebanyak 63 orang mahasiswa meninggalkan kampus menuju kantor camat Bontonompo Selatan. Dan 63 mahasiswa tersebut dibagi menjadi 9 Desa, sehingga dalam satu desa terdapat 7 orang mahasiswa. Kami juga disambut hangat oleh pak camat, sekretaris camat, serta bapak-bapak kepala desa yang ada di Bontonompo Selatan. Setelah penyambutan, kami langsung menuju rumah kepala desa tanrara. Di sana kami disambut tak kalah hangatnya oleh ibu desa. Namun saya sedikit heran sesampainya di sana, karena hanya ibu desa yang hadir dan tak ada siapapun lagi. Kemana orang-orang di rumah ini? Ternyata ibu desa memang hanya mempunyai satu anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Dg Nai, si kecil ganteng dan paling pintar di sekolahnya.
Hari pertama di posko kami isi dengan rapat perdana pada malam harinya, membahas agenda yang akan kami lakukan besok hari. Seperti bangun pukul 5 pagi, membersihkan seluruh area rumah, dan membuatkan pak desa kopi. Tapi ternyata semua rencana yang saya sebutkan tak ada yang terlaksana. Bagaimana tidak? Kami telat bangun! Kami baru bangun pukul 7 pagi, sangat memalukan haha, itu kami para perempuan, saya tidak tahu bagaimana kabar mereka para laki-laki.
Tak ada yang lebih menenangkan dari duduk di atas bale-bale belakang posko, menikmati semilir angin, dengan hamparan lapangan luas pemandangannya. Tak ada yang lebih indah untuk dikenang, kecuali menikmati langit senja desa Tanrara di bale-bale belakang posko. Tak ada lagi yang kurindukan, selain duduk bersama adik-adik menghabiskan sore di bale-bale belakang posko. Ayu, Rida, Nanda, Iksan, Reski, Ais, bolehkah jika saya rindu? Di sini, ada rindu untuk kalian.
Kemudian IRMARAJA, Ikatan Remaja Masjid Raudhatul Jannah. Didalamnya ada pemuda pemudi Dusun Pa’jokki. 45 hari kami KKN, tapi hanya 15 hari (mungkin) waktu kami untuk saling mengenal. IRMARAJA adalah salah satu alasan saya bersyukur di tempatkan di Tanrara, berisi pemuda-pemudi baik hati, memiliki nilai solidaritas tinggi, dan orang-orangnya susah dilupakan :D. Terima kasih untuk tiga malam terakhir kami KKN, kalian juga ikut menemani hingga bermalam. Terima kasih juga telah mengantar kami hingga penarikan di kantor camat.
Selanjutnya, saya akan bercerita tentang teman posko saya satu persatu:
1. Abu Rijal Al-Ghifari, atau sering dipanggil kordes hehe. Dari jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin Filsafat & Politik. Dia yang paling hitam di posko kami, tapi memiliki gigi yang paling putih juga. Ketika melihat ke arahnya, hanya satu hal yang sedang dia lakukan. Tunduk ke bawah menghadap handphone, apalagi kalau bukan chat-an bersama pacarnya. Bahkan ketika bermain bola, handphone tidak pernah lepas dari genggamannya. Saya heran, apakah pacarnya akan berubah menjadi anjing galak jika terlambat 1 menit saja membalas pesan?. Kordes kami ini adalah orang yang baik walaupun hanya kadang-kadang, gampang disuruh juga kadang-kadang, dan paling parah harus selalu diingatkan bahwa dia harus melakukan ini, melakukan itu dll, selalu. Tapi, saya bersyukur bisa memiliki kordes semacam dia, entah karena apa. Intinya, saya minta maaf karena sudah pasti saya banyak salah, dan terima kasih karena selalu bersabar ketika saya marah-marah, terima kasih sudah mau menjadi kordes kami. Jangan besar kepala ketika saya mengatakan kaulah kordes terbaik sepanjang masa, bagiku.
2. Muhammad Anugrah Ramadhan. Biasa dipanggil Kak Rama, karena dia adalah salah seorang senior angkatan 2015 di kampus. Dari Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Setelah kordes, padanyalah saya banyak salah karena sering marah-marah. Tapi jujur saja, detik setelahnya, saya langsung merasa bersalah. Salah satu koki di posko, untuk beberapa minggu dialah yang setiap pagi cepat bangun hanya untuk memasak sarapan pagi. Pernah suatu waktu saya merasa malu karena memakan masakannya, ia lebih handal dari saya di bagian dapur. Selain koki, dia jugalah ‘yang dituakan’, jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran, padanya lah saya selalu bertanya, dia juga sebagai penasehat, tapi kadang-kadang saya tidak suka caranya menasehatinya yang ‘menghina’ lebih dulu. Awal-awal KKN saya merasa tersinggung dengan caranya menegur, ‘tua tapi pikiran masih bocah’, kalimat yang tidak bisa terlupakan, tapi lambat laun saya sadar, semua demi kebaikan bersama, semua demi kepentingan bersama. Terima kasih sudah mau peduli.
3. Reski Dewi Sahir Syam. Biasa kami panggil ibun, karena dialah sang ibundahara dan dia juga orang yang sangat dewasa di antara kami para perempuan. Dari Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Dia adalah sosok yang benar-benar baik dijadikan tempat bercerita. Dia sering memberi kami nasehat, tentang bagaimana seharusnya menjadi perempuan dan istri yang baik. Logat yang kental akan daerahnya adalah salah satu ciri khasnya. Dia jugalah teman saya dalam memarahi kordes hehe. Berhubung karena dialah sang bendahara, rekan saya dalam berpikir bagaimana mengatur kordes agar bisa bergerak cepat. Terima kasih masakannya hehe.
4. Nurhikma Mansur. Dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Hikma adalah salah satu teman yang se-hobby dengan saya. Apalagi kalau bukan baca novel hehe. Penggemar Pramodya Ananta Toer, penggemar Dilan, Biru, Geez dan saat ini sedang mencari sosok yang bisa menjadi Biru untuknya, haha. Selain hobby membaca dia juga hobby tidur sampai-sampai berat badannya naik 5 kilo selama di posko. Saya sangat suka memutar lagu Ada Rindu Untukmu cover Vanny Vabiola didekatnya, karena akan ada rengekan serta ‘dinging-dinging nyawaku’, haha. Jika teman posko lain sedang malas-malasan, saya selalu datang kepadanya untuk mengajaknya bekerja, dia juga orang yang mampu memposisikan diri, paling percaya diri. “Yang penting maju dulu saja, walau tidak tau apa-apa” masih ingat?
5. Irmawati, biasa dipanggil Irma dari Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Ini dia si kecil tapi cabe rawit. Awalnya memang pendiam, tapi jika sudah kenal maka label pendiam di awal akan menguap entah kemana. Orang yang paling rajin menyapu dan mengepel di posko, katanya ‘ini kerjaanku kalau di rumah’. Kalau ada dia, maka kamar akan selalu bersih. Dia juga biduan nya posko. Walaupun sudah pukul 12 malam, jika ucapan ‘mauku menyanyi’ sudah keluar maka tidak peduli orang-orang sudah tertidur, dia akan tetap karaoke. Suaranya? Jangan salah, suaranya mampu menurunkan badai hujan. Pernah di suatu malam hujan tiba-tiba turun, deras, ketika dia bernyanyi, haha. Salah satu momen lucu yang diciptakan si tengil. Walaupun kesan pertama dengannya kurang baik, tapi setelah kenal dia adalah orang yang baik hati, selalu berbagi, dan terlalu jujur, keterlulan :D.
6. Nasywa Nurul Azigho. Biasa dipanggil Nasywa dari Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam. Inilah sang pengantin baru di posko kami. Tanggal pernikahannya juga sama tanggal kelahiranku, 23 November, dan tanggal 27 November kita sudah di lokasi KKN. Jujur saja, dia adalah orang yang susah sekali di ajak berkomunikasi, rasanya sungkan, hehe. Dia juga orang yang paling sering bersama handphone setelah kordes di posko, mungkin karena efek pengantin baru hehe. Terima kasih sudah menjadi teman posko yang sabar, dan saya minta maaf karena sudah banyak salah hehe.
Untuk seluruh teman-teman posko. Terima kasih atas kerja samanya selama 45 hari. Perpisahan tidak memisahkan, karena akan ada pertemuan-pertemuan baru setelahnya. Jika teringat kembali, saya pasti selalu bersyukur karena memiliki teman-teman seperti kalian. Terima kasih 45 harinya.
Singkat cerita saya kembali ke kampus untuk memenuhi kewajiban-kewajiban lain dalam upaya memenuhi cita-cita. Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar