Parangbanoa, 18 Januari 2020. 21.06 WITA
Assalamualaikum.
Aku
kembali lagi, aku, perempuan yang dikepalanya melulu tentang kamu, Tuan.
Selepas pengabdian masyarakat di tanah itu, ada seorang pemuda yang katanya
suka bikin puisi. Bahkan ia membuatkan satu untukku. Judul puisinya tentang
kamu dan kenangan. Ah, tidak ada yang seperti Biru di dunia ini, pikirmu waktu
itu. Ternyata ada Tuan, masih ada penikmat kopi yang diam-diam mencintai sastra,
menyampaikan kata melalui gubahan sajak-sajak. Masih ada. Sayang sekali, ia
membuat puisi untuk perempuan yang isi kepalanya tak ada rindu untuk orang lain,
semua monoton, itu-itu saja, abu-abu, karenamu.
Tentang Kamu dan Kenangan
(Alor 14 Januari 2020)
Di sini terdiam sendiri
Menikmati nestapa di ujung hati
Berpikir merintih tak berpasti
Apakah rindu
ini akan sampai
Baru kemarin terasa bersama
Dan hari ini kita terpisah
Jangan salahkan jarak atas hal ini
Jangan salahkan hati atas rindu ini
Kita ini
tetap sepasang, meski telapak tangan tak saling menggenggam
Pikirku jauh melanglang buana
Tentang kamu dan kenangan
Apakah kita diuji atau bagaimana?
Aku tak jernih sekarang
Karena
akal sedang melayang
Jujur saja, kamu punya rasa yang sama atau tidak?
Jawab saja, tak apa!
Karena
rindu sendiri itu kadang menjadi pencipta senyum di balik tangis
Ini tentang kamu dan kenangan
Tentang aku dan rindu
Tentang
apapun yang berhubungan dengan kita
Semesta ini luas, kenangan pun sama halnya
Hanya saja kadang takdir dapat menyempitkan
Entah karena
ada pertemuan atau apapun semacamnya
Ini tentang kamu dan kenangan
Dan tentang
kenangan yang mungkin kita cerita bersama
Balasan:
Ada Rindu Untukmu
(Dys, 17 Januari 2020)
Pukul dua pagi, aku di sini,
tapi tak seorang diri
Aku bersama kata-kata imaji,
yang selalu
mengiringi
Ada pertemuan yang menyatukan
Ada perpisahan yang menjauhkan
Tapi rindu di hati adalah keabadian
Betapapun jauhnya ruang sela,
kenangan tak akan kuasa benar-benar meninggalkan
Akan kusampaikan padamu
Tentang aku yang tak lagi sendu
Karena rindu yang melulu, seperti katamu
Ciptakan
senyum meskipun pilu
Ajari aku
Suka tanpa perlu terluka
Rindu tanpa harus merasakan sembilu
Kembali tanpa harus pergi lagi.
Beritahu aku cara lupa
Beritahu aku cara mengakhiri
Berhenti dari rasa yang tak berkesudahan
Karena
lautan rindu, malam ini aku tenggelam
Di bawah bintang-bintang di sudut kamar
Rasa rindu menguar seperti pesiar
Tapi biar saja rindu, karena aku masih mampu
Jangan jumpa, nanti aku sulit berkata sudah
I don't have anything much to say. But, is it okay to miss you this much?
-dys

Ada juga puisiku
BalasHapusArah Mata Angin
(Mia 20 Januari 2020)
Kata orang arah mata angin itu ada delapan
Tapi yang ku tahu ada enam belas
Kau ingin tahu apa saja?
Maka duduklah di sini bersamaku
Akan ku beritahu semuanya untukmu
Tapi bagaimana caraku memberitahumu jika tak ku temukan dirimu di enam belas arah mata angin itu?
Pusat Mata Angin
Hapus(Dys, 20 Januari 2020)
Jika bagimu arah mata angin ada enam belas
Maka bagiku hanya satu, dia yang abu-abu
Jika tak kau temukan dia yang kau cari di enam belas arah mata angin itu
Maka aku, tak sekalipun ia pergi dari pusat mata anginku
Dia dibenakku, terikat dalam ingatan yang membelenggu
Dialah sang aditokoh dalam sandiwaraku yang ada lagi nyata
(catatan suatu malam di bawah langit yang remang-remang, bersama perasaan yang sedang kelam)