April 01, 2019

Ra Amelia - Padam


Assalamualaikum!

Kemarin, salah satu kawanku pernah berkata: kenapa di dalam novel, perasaan tokohnya selalu dalam sekali?. Kalimatnya berbunyi pertanyaan yang menyampaikan pernyataan, namun berhasil menggelitik radarku untuk segera membuat tulisan ini.

Kujawab dengan berkata: itulah salah satu alasanku mencintai dunia literasi. Rangkaian kata-kata yang disusun lebih dalam, lebih terasa dibandingkan media lain. Karena itu aku sering menyebut penulis adalah profesi sejuta pekerjaan. Seorang penulis harus mampu menempatkan diri dalam setiap profesi. Setiap penulis harus selalu mampu memahami perasaan di setiap kegiatan suatu profesi. Setiap penulis harus pandai memahami situasi dari setiap lakon sandiwara dan drama kehidupan.

Kawanku melanjutkan: membuat kita berkhayal tinggi. Berharap ada seseorang yang menyukai kita, menyayangi kita seperti di dalam novel. Dan yang paling menjengkelkan, kita seakan ikut merasakan apa yang tokohnya rasa. Minimal kita juga menginginkan ada seseorang yang perasaannya sedalam itu kepada kita. Lebih baper baca novel daripada nonton drakor.

Temanku baru saja membaca novel Ra Amelia yang berjudul Padam, novel yang berhasil menurutku. Berhasil membawaku dalam pusaran kesakitan dan kerapuhan tokoh utama. Jujur, aku sangat menyukai cara penulisan dan diksi yang digunakan Ra Amelia. Aku ingin mengatakan metode penulisannya hampir sama denganku, tapi aku takut dikatakan terlalu percaya diri menyamakan metode penulisan dengan penulis berhasil seperti Ra Amelia.

Salah satu hal yang kusukai dari novel ini adalah, Ra Amelia memberikan banyak pelajaran dan pengalaman hidup, kebaikan dan kesucian hati. Ra Amelia telah mengingatkanku tentang prinsip yang telah hampir kulupakan: “Tak ada pembalasan dendam paling berat daripada kau membalasnya dengan kebaikan.” Terima kasih Ra Amelia!

Bagian yang juga berhasil menyentil hatiku adalah:

         Nitara meronta sekuat tenaga saat tiba-tiba Bagaskara memeluknya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nitara. Rontaan yang kian melemah saat merasakan basah di punggungnya, karena tangis diam-diam pria itu.

                        “Pergi, Bagas—”

                        “Kemana? Jika tempat yang selalu ingin kutuju adalah kamu.”

Bagian 2:

              “Apa yang menelepon barusan adalah kekasihmu?”

              Untuk beberapa saat, Nitara hanya menatap Bagaskara. Wanita itu seolah ingin mencari tahu tujuan dari pertanyaan itu.

            “Kami tidak terikat dalam hubungan,” Jawaban Nitara membuat pijar di mata Bagaskara menyala, sebelum diredupkan detik berikutnya setelah mendengar lanjutkan kata Nitara, “tapi dia adalah ‘priaku’.”

Percakapan kami dilanjutkan keesokan harinya ketika kawanku mengatakan ia telah selesai membaca buku Padam.
Me: Jadi bagaimana?
Frnd: Happy ending.
Me: Iya, maksudku pendapatmu setelah membacanya apa?
Frnd: Biasa aja. Memang ada beberapa bagian yang bikin baper tapi tidak keseluruhan.
Me: Tentang happy ending, itu happy ending dari sudut pandangnya Anggara, tapi kalo dari Bagaskara sad, yaa walaupun akhirnya menerima takdir. Jadi kesimpulannya, happy or sad ending-nya suatu kisah, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.
Frnd: Bukan itu alasan saya bilang happy ending, kubilang happy ending karena semua tokoh dapat balasan dari apa yang na lakukan. Nitara akhirnya bisa bahagia sama Anggara setelah tiga tahun hdup menderita menyelahkan diri sendiri. Anggara berhasil wujudkan keinginannya untuk tanggung jawab ke Nitara. Asssyana dan Bagaskara juga masing-masing dapat balasan dari sikapnya ke Nitara. Walaupun sebenarnya Bagaskara tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja dia salah karena meninggalkan Nitara begitu saja tanpa minta penjelasan. Revan juga kembali ke kodratnya sebagai cowok. Jadi saya happy ending kupandang dari sudut pembaca. Kita puas membaca karena semua dapat bagiannya masing-masing.

Menurutku, apa yang dikatakan kawanku adalah benar. Begitu pula yang aku katakan. Pendapat kami tidak bertentangan bukan?.

~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law