Assalamualaikum!
Kemarin, salah satu kawanku
pernah berkata: kenapa di dalam novel, perasaan tokohnya selalu dalam sekali?. Kalimatnya
berbunyi pertanyaan yang menyampaikan pernyataan, namun berhasil menggelitik
radarku untuk segera membuat tulisan ini.
Kujawab dengan berkata: itulah
salah satu alasanku mencintai dunia literasi. Rangkaian kata-kata yang disusun lebih
dalam, lebih terasa dibandingkan media lain. Karena itu aku sering menyebut
penulis adalah profesi sejuta pekerjaan. Seorang penulis harus mampu menempatkan
diri dalam setiap profesi. Setiap penulis harus selalu mampu memahami perasaan di
setiap kegiatan suatu profesi. Setiap penulis harus pandai memahami situasi
dari setiap lakon sandiwara dan drama kehidupan.
Kawanku melanjutkan: membuat kita
berkhayal tinggi. Berharap ada seseorang yang menyukai kita, menyayangi kita
seperti di dalam novel. Dan yang paling menjengkelkan, kita seakan ikut
merasakan apa yang tokohnya rasa. Minimal kita juga menginginkan ada seseorang
yang perasaannya sedalam itu kepada kita. Lebih baper baca novel daripada
nonton drakor.
Temanku baru saja membaca novel
Ra Amelia yang berjudul Padam, novel yang berhasil menurutku. Berhasil membawaku
dalam pusaran kesakitan dan kerapuhan tokoh utama. Jujur, aku sangat menyukai
cara penulisan dan diksi yang digunakan Ra Amelia. Aku ingin mengatakan metode
penulisannya hampir sama denganku, tapi aku takut dikatakan terlalu percaya
diri menyamakan metode penulisan dengan penulis berhasil seperti Ra Amelia.
Salah satu hal yang kusukai dari
novel ini adalah, Ra Amelia memberikan banyak pelajaran dan pengalaman hidup,
kebaikan dan kesucian hati. Ra Amelia telah mengingatkanku tentang prinsip yang
telah hampir kulupakan: “Tak ada pembalasan dendam paling berat daripada kau
membalasnya dengan kebaikan.” Terima kasih Ra Amelia!
Bagian yang juga berhasil menyentil
hatiku adalah:
Nitara meronta sekuat tenaga saat tiba-tiba Bagaskara memeluknya.
Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nitara. Rontaan yang kian melemah saat
merasakan basah di punggungnya, karena tangis diam-diam pria itu.
“Pergi, Bagas—”
“Kemana? Jika tempat yang selalu
ingin kutuju adalah kamu.”
Bagian 2:
“Apa yang menelepon barusan adalah kekasihmu?”
Untuk
beberapa saat, Nitara hanya menatap Bagaskara. Wanita itu seolah ingin mencari
tahu tujuan dari pertanyaan itu.
“Kami
tidak terikat dalam hubungan,” Jawaban Nitara membuat pijar di mata Bagaskara
menyala, sebelum diredupkan detik berikutnya setelah mendengar lanjutkan kata
Nitara, “tapi dia adalah ‘priaku’.”
Percakapan kami dilanjutkan keesokan harinya ketika kawanku
mengatakan ia telah selesai membaca buku Padam.
Me: Jadi bagaimana?
Frnd: Happy ending.
Me: Iya, maksudku pendapatmu setelah membacanya apa?
Frnd: Biasa aja. Memang ada beberapa bagian yang bikin baper
tapi tidak keseluruhan.
Me: Tentang happy ending, itu happy ending dari sudut
pandangnya Anggara, tapi kalo dari Bagaskara sad, yaa walaupun akhirnya
menerima takdir. Jadi kesimpulannya, happy or sad ending-nya suatu kisah,
tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.
Frnd: Bukan itu alasan saya
bilang happy ending, kubilang happy ending karena semua tokoh dapat balasan dari
apa yang na lakukan. Nitara akhirnya bisa bahagia sama Anggara setelah tiga
tahun hdup menderita menyelahkan diri sendiri. Anggara berhasil wujudkan
keinginannya untuk tanggung jawab ke Nitara. Asssyana dan Bagaskara juga
masing-masing dapat balasan dari sikapnya ke Nitara. Walaupun sebenarnya
Bagaskara tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja dia salah karena meninggalkan
Nitara begitu saja tanpa minta penjelasan. Revan juga kembali ke kodratnya
sebagai cowok. Jadi saya happy ending kupandang dari sudut pembaca. Kita puas
membaca karena semua dapat bagiannya masing-masing.
Menurutku, apa yang dikatakan kawanku adalah benar. Begitu pula yang aku katakan. Pendapat kami tidak bertentangan bukan?.
~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar