Samata, 24 Februari 2019
Assalamualaikum.
Hm, apa ya. Kupikir aku memang
pantas dikatakan si melankolis, atau bisa juga si perempuan munafik, atau
atau... si pelakon ulung. Di sini, di dalam tulisan aku merasa bebas untuk
mengungkapkan apa saja yang tidak berani aku ungkapkan kepada orang lain. Di
sini aku tidak memiliki rasa malu jika saja ada seseorang yang membacanya. Toh,
identitasku tidak dikenal mereka. Mereka tidak akan menemukan aku di kehidupan
nyata.
Katakanlah aku munafik.
Katakanlah aku memang pandai melakukan sandiwara. Karena memang itu benar.
Malam ini, sekali saja aku ingin menjadi diriku sendiri. Biarkan saja jika
kalian akan menyebutku terlalu lebay,
karena beginilah aku, inilah diriku yang sebenarnya. Ingin sekali aku menangis,
tapi tapi, air mataku tidak bisa keluar. Rasanya sesak, tapi tetap saja air
mataku tertahan. Aku ingin menangis, pergi.
Aku merasa lelah karena terus
bersandiwara. Di depan mereka, kupikir mereka akan mampu menebak isi hatiku
yang sebenarnya, nyatanya mereka aku bisa bodohi dengan lakonku. Mereka percaya
dengan aku yang bersikap biasa seolah baik-baik saja. Mereka percaya dengan aku
yang mengatakan tidak peduli urusan
apapun tentang hal itu lagi.
Aku merasa lelah, tapi mana
mungkin aku akan bersikap jujur? Toh, tidak akan ada yang peduli. Jadi mungkin
hanya di sini, dalam sebuah tulisan, aku bisa jujur bahwa aku tidak baik-baik
saja, sakit sekali rasanya. Sakit sekali.
Kapan ya aku bisa keluar dari
situasi ini? Kapan aku bisa pergi dari kenyataan yang masih belum bisa kuterima
ini? Aku ingin bebas.
Terima kasih, ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar