Parangbanoa. Ahad, 30
September 2018
Assalamualaikum!
Sekitar beberapa menit yang lalu saya baru menyadari bahwa hari ini adalah the
last day on September dan saya masih belum sempat nulis buat isi blog di bulan
September, hiks..
Well, relativitas waktu berlaku untuk saya saat ini.
Terasa baru kemarin dengan sibuk-sibuknya mempersiapkan kegiatan ANGKA yang
dilaksanakan tanggal 10-13 September, dan sekarang sudah menjadi hari terakhir
musim September, actually I’m so sad.
Dalam kegiatan ANGKA (Ajang Kompetisi Matematika) kali
ini, saya bertugas sebagai PJ or penanggung jawab acara dalam Kompetisi Mading
3D. Memainkan peran sebagai PJ acara, benar-benar menjadi pengalaman pertama
untuk saya. Jujur saja, di hari rapat pembentukan panitia saya tidak tahu
kenapa mereka menunjuk saya. Sedangkan mereka semua pasti tahu, dari segi
pengalaman saya benar-benar null dan tidak tahu apa-apa. Ketika ditanya
kesiapan, saya menjawab ‘tidak siap’ dan menolak peran itu. Tapi entah kenapa,
sang ketum tetap saja menulis nama saya, shit! Dan yaa, dengan berat
hati saya menerima tanggung jawab itu. Tidak! Dengan berat hati saya dipaksa
menerima tanggung jawab itu:) . As a consequence, I found so many knowledge and
experiences that I never found it before. Thankyou so much Zul, Baso, Nos.
Kalian yang membaca ini pasti bertanya, kenapa saya berterima kasih dengan tiga
orang yang saya sebutkan namanya. Itu karena mereka bertiga lah yang dengan
ngototnya menunjuk saya untuk mengambil alih peran PJ tersebut.
Guys, sekedar flashback.
Pernah
suatu hari rapat evaluasi persiapan ANGKA 2017, saya hadir. Di sana, para PJ
acara lomba memaparkan perkembangan lombanya. Saat PJ acara Gamma naik ke
depan, dengan lancar memaparkan jumlah peserta, kendala dan sebagainya. Setelah
tiba di akhir-akhir, peserta rapat (kakanda senior) banyak memprotes sang PJ.
Nah, pada saat itu dalam hati saya berdoa: semoga saya tidak akan pernah
menjadi kakak yang di protes itu, Aamiin.
Well, ini mungkin sudah menjadi takdir saya. Tuhan
tidak mengabulkan doa saya, namun sebaliknya Dia membuat saya menjadi seperti
kakak yang diprotes dulu. Dan yaa, semua orang pasti tahu bahwa
keputusan-Nyalah yang terbaik. Sekarang saya sudah mendapatkan dampaknya.
Betapa pengalaman dan pengetahuan baru itu begitu berharga hingga saya tidak
tahu bisa mendapatkannya dimana lagi.
Acara kami mulai dipersiapkan pada bulan Mei 2018, Tapi
baru benar-benar kerja nyata sebulan setengah sebelum acara. Di sini, yang
dulunya saya tidak akrab dengan teman-teman angkatan kini saya menjadi akrab.
Dulunya saya segan untuk sekadar menyapa kini sudah tidak malu lagi untuk
memainkan canda. Lagi dan lagi, terimakasih Zul, Baso, Nos.
Sebulan lebih sebelum acara, divisi mading mendapat
pendaftar pertama pada tanggal 08 Agustus 2018. Sebagai PJ acara saya merasa
khawatir jika saja peserta tidak memenuhi target untuk lomba bisa terlaksana.
Sampai dua minggu sebelum acara, jumlah pendaftar masih setia pada tempatnya.
Saya bersama teman-teman PJ lain mulai cemas akan berjalan lancarnya kegiatan
kami ini. Tapi ketua kami, sang ketua panitia kami dengan perasaan tak kalah
cemas namun tetap memberi semangat mengatakan:
Berjalan lancarnya sebuah acara tidak
dilihat dari jumlah peserta yang mendaftar, tapi bagaimana kita para panitia
bekerja keras penuh dengan ikhlas untuk kegiatan bersama, kesalahan juga tidak
semata-mata PJ lomba yang menanggung, tapi ada kita semua, ada ketua di
belakangnya.
Dari situ saya kembali bersemangat lagi. Dengan
dibayang-bayangi kalimat andalan dalam ANGKA tahun ini: Jangan sampai kendor!.
Semoga saja ya, semangat kita tidak sampai kendor. Actually, ini bukan hanya
sekadar bermain peran. Di sini saya telah mengerahkan segala pemikiran, ide, tenaga,
waktu dan perasaan wkwkwk. Saya juga sempat berselisih paham dengan ketua (Jadi
malu saya jika mengingatnya:D). Tapi Alhamdulillah semua terselesaikan dengan
baik.
Hingga sampai pada seminggu sebelum acara, barulah
peserta bermunculan satu persatu. Semua panitia bekerja giat pada perannya
masing-masing. Para Steering yang selalu memberi saran dan memantau
perkembangan. Dan tentunya ketua panitia yang tak henti-hentinya bertanya
langsung maupun tidak langsung, di grup panitia maupun kontak pribadi:
“Bagaimana perkembangan peserta?”
Handphone saya tak pernah luput dari
dering chat dan telepon dari peserta, just peserta oke? Wkwkwk. Sebenarnya
mulai dari sebulan sebelum acara sudah banyak calon peserta yang bertanya
tentang informasi lomba, tapi selalu berpikir lagi untuk melakukan pengisian
biodata online.
Dan akhirnya, sampai pada hari terakhir pendaftaran
online, jumlah peserta pada Kompetisi Mading 3D adalah 14 TIM. Khawatir dan
cemas akan peserta menghilang dan digantikan perasaan was-was, tinggal
bagaimana kami mengatur acara sehingga berjalan sesuai harapan.
Mading 3D diadakan pada hari ketiga, 12 September 2018
di pelataran Fakultas Sains dan Teknologi. Dari 14 tim peserta ada 1 tim yang
tidak hadir. Tanpa pilihan lain, secara otomatis 1 tim tersebut dinyatakan
gugur.
Hari itu, Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai
pengerjaan mading selesai, peserta diberikan waktu istirahat untuk selanjutnya
melakukan presentasi dari karya yang mereka buat. Sampai pada pukul 1 siang,
seluruh peserta lomba dipanggil untuk kembali ke arena lomba. Pada saat itu
juga, kurasa cuaca sedang memusuhiku. Semburat hitam mengisi awan-awan di
langit Fakultas. Langit tak lagi sebiru beberapa menit sebelumnya. Saya khawatir dan
mendatangi ketua panitia yang saat itu ada di samping panggung. Belum sampai
saya di tempat tujuan, tetesan-tetesan air bergotong royong keluar dari penjara
awan. Semua peserta lomba tanpa aba-aba dari siapapun menyelamatkan hasil karya
mereka yang terguyur air hujan. Mereka menepi di koridor lantai satu fakultas. Saat
itu saya tidak bisa berkata apa-apa, diam di tempat tak mampu bergerak. Saya speechless.
Bersamaan dengan tetesan air hujan yang jatuh dari langit, tetesan hujan juga
jatuh dari pipi saya.
Saya baru tersadar ketika kertas yang berada di tangan
saya lunglai karena basah. Saya juga menepi, mencari penasehat divisi mading untuk
meminta saran selanjutnya. Ketua panitia, salah seorang steering, dan koordinator
perlengkapan, saya melihat mereka sibuk mencari ruangan yang bisa kami tempati.
Pelataran Fakultas tidak mungkin lagi digunakan. Di situ saya ingin menangis
lagi, tidak ada selain mereka yang khawatir dan panik. Semua acuh dan tidak
peduli. Seakan acara ini hanya milik saya dan ketua panitia. Sedih sekali rasanya,
sebegitu buruknyakah saya? Mungkin memang saya seburuk itu. Saya perlu
introspeksi diri lagi.
Alhamdulillah kami menemukan titik temu. Presentasi setiap
tim di depan dewan juri dilaksanakan di Loby Fakultas, tempat photobooth
dipasang.


Ahhh... irinyaa :') semoga event ANGKA selanjutnya diriku bisa ikut ambil peran
BalasHapusAngka tahun ini sejujurnya kau begitu berperan. Walau tidak menyumbangkan peluh keringat, tapi ide dan saran saranmu masih teringat. Apalagi bagi divisi mading sendiri hehehe
HapusKami tunggu yaa di angka 2019:*