Parangbanoa, 05 November
2018-- 22:23 WITA
Lagu 7!!-Orange berkumandang di gendang telingaku. Salah
satu lagu favorit yang kudapat dari soundtrack sebuah film anime
berjudul Shigatsu wa kimi no uso. Aku sedang di kamarku—tempat paling
nyaman untuk melakukan kegiatan menulisku. Tapi, bukan menulis sesuatu yang
bermanfaat. Ini sama sekali tidak memiliki manfaat kepada kalian yang
membacanya. Pasalnya, tulisan ini adalah suara hatiku yang sudah dirangkai menjadi
barisan kata-kata. Apa yang bermanfaat dari membaca curahan hati seseorang? Sebelumnya,
aku ingin berterima kasih kepadamu. Tuan.
©
Aku suka menulis tentang kamu, tentang aku ke kamu. Karena
dalam tulisan sosok kamu bisa abadi. Tidak seperti di kehidupan nyata. Kamu tak
lebih dari sekadar halusinasi, ilusi yang mengisi mimpi mimpi. Maya, khayalan
semata. Atau, Nyata tapi tak teraih. Asal kamu tahu saja, walau sekarang aku
bermandikan ragu, berlumuran cemburu, aku masih saja padamu. Iya, masih
merelakan sebelum memiliki.
Apakah kamu tahu? Selain dalam tulisan, dimana saja
sosokmu bisa abadi? Kupikir, tanpa aku menjawabnya kamu bisa mengetahuinya hei
Tuan penuntut kebebasan. Tapi sekarang kita tidak sedang bermain tebak-tebakan.
Aku akan menjawabnya. Dan tentu saja kamu abadi dalam imajinasiku. Aku bahkan
sudah berpikir akan ke psikiater karena hal ini. Untuk kali pertama seorang
laki-laki yang bahkan bertukar sapa denganku saja tidak pernah, mampu mengisi
otakku dalam keadaan sadar bahkan ketika aku sedang tidak sadar.
Jujur saja awalnya aku merasa risih dengan hal ini.
Dulu, ketika pertama kali aku mengetahui bahwa perasaanku padamu bertepuk
sebelah tangan, bohong jika aku mengatakan bahwa aku biasa saja dan tetap
baik-baik saja. Saat itu makan pun tidak mampu menghiburku. Aku merasa sedih
dan kecewa secara bersamaan. Tapi dari situ kupikir ada pelajaran yang bisa
diambil. Pelajaran untuk jangan mudah jatuh ke dalam pesona laki-laki yang
tidak kau kenal dekat. Pelajaran untuk jangan menyukai laki-laki yang tidak
memiliki hati, atau mungkin berhati tapi sekeras batu. Pelajaran agar jangan jatuh
hati pada laki-laki yang tidak peduli urusan cinta dan perasaan.
Saat itu aku merasa kasihan kepada diriku. Kamu adalah
laki-laki pertama yang aku sukai lebih dulu. Kamu adalah laki-laki pertama yang
merebut hatiku dari sosok ayah. Kamu adalah laki-laki pertama yang aku harap
akan menjadi rekan hidupku kelak. Tapi sayangnya perasaanku padamu hanyalah
perasaan sendirian tanpa balasan. Kamu tidak demikian terhadapku. Aku dimatamu
hanyalah teman se-angkatan, saudara,
tidak lebih dari itu.
Beberapa saat setelah hari menyakitkan itu, aku mulai
berpikir untuk bangkit dan mencoba melupakanmu. Maksudku, mencoba melupakan
perasaan yang telah tumbuh di luar kendaliku. Aku mulai menerima obrolan yang muncul
di media sosialku. Aku mulai mencoba membuka hati untuk orang yang baru. Aku
juga mulai melakukan saran yang diberikan sahabatku untuk mengenal lebih banyak
laki-laki di luar sana. Semata-mata hanya untuk menghilangkan perasaan yang sudah
tumbuh lebat di dasar hatiku.
Dan akhirnya aku melakukannya. Aku mulai dekat dengan
salah satu teman media sosialku. Kebetulan kami satu kampus, hanya beda
Fakultas. Setiap hari saling chatting-an dan kabar-mengabari. Aku juga dekat dengan dua laki-laki lain
berkat saran temanku, dan berlangsung dengan saling chatting-an hingga
larut malam. Sampai akhirnya aku merasa bosan.
Bagaimana tidak? “lagi apa?”, “sudah makan?”, “sudah sholat?” percakapan
mainstream yang membuatku benar-benar malas untuk menanggapinya. Apalagi
semua mengirimi pesan yang sama sebanyak lima kali sehari. Bagiku, mereka tidak
perlu selalu tahu apa saja hal yang sedang kulakukan. Makan adalah kebutuhan
sedangkan sholat adalah kewajiban, dan aku tidak perlu diingatkan hal semacam
itu. Aku butuh sesuatu yang tidak biasa dan mampu membuatku mencapai tujuanku
melakukan ini. Aku butuh seseorang seperti kamu, bukan macam laki-laki kurang
kerjaan seperti mereka. Tuh kan, aku mengingatmu lagi.
Bagaimana aku tidak bisa lupa? Sebenarnya, aku sering membanding-bandingkan
kamu dengan seseorang yang sedang dekat denganku. Kamu yang begini, kamu yang
begitu, kamu yang selalu berbeda namun menarik, kamu yang tidak lekas membalas
perasaanku.
Setelah lelah untuk mencoba melupakanmu, akhirnya aku
menyerah. Ini tidak semudah menjawab soal integral dan diferensial. Butuh
waktu, butuh mental kuat, butuh hati yang sembuh atas luka-luka. Dan beginilah
aku, tetap bertahan dengan perasaan yang ada. Tetap berusaha untuk mengekang
rasa.
Perasaanku padamu tidak serendah itu sehingga bisa
dengan mudah untuk dimusnahkan. Jangan pernah menyepelekan perasaanku. Karena
aku tidak akan berhenti sebelum kamu sendiri yang mengatakan padaku untuk
berhenti. Hatiku tidak mudah terbuka
untuk hati yang lain. Bagaimana tidak? Jika perhatianku saja selalu tertuju
kepadamu. Tak ada waktu memikirkan perasaan orang lain, jika hatiku selalu
sibuk dipenuhi olehmu. Selalu kamu Tuan Abu-Abu... Selalu kamu masya… jahatnya, selalu saja kamu
mengabaikanku.
Ketika aku memikirkan sejauh mana perasaanku padamu,
aku mulai sadar bahwa perasaanku lebih dari itu. Ketika aku menyadari bahwa
perasaanku lebih dari itu, hatiku terasa tidak setuju dan mengatakan lebih
dari sekadar itu. Ketika hatiku mengatakan perasaanku lebih dari sekadar
itu, aku baru mengerti ternyata perasaanku padamu tidak dibatasi oleh
kata-kata. Tak mampu terlukis oleh kuas sang pelukis. Tak mampu diukir oleh
pena sang penulis.
Bolehkah aku mengartikan apa yang kurasakan ini adalah
cinta? Kamu meleburkan hatiku yang beku dengan cara yang masih belum bisa
kupahami. Kamu telah mengambil alih
ruang nalarku tanpa pernah aku sadari. Kamu seperti pencuri, secara
sembunyi-sembunyi memasuki relung hatiku
tanpa permisi kepada pemiliknya terlebih dulu. Keterlaluan!
Banyak tanya yang bersemayam dalam hati. Namun yang tak
lekas kupahami, kamu yang tak kunjung mengerti atau aku saja yang kurang sadar
diri? Apa yang bisa kulakukan? Jika harapku kepadamu kian hari kian meninggi?
Kamu tak tahu betapa senangnya aku, ketika sebelum tidur
kamu adalah orang terakhir yang sempat kulihat, dan ketika aku terbangun kamu juga
orang pertama yang kulihat. Seperti peristiwa kemarin, 03 November 2018 di
Kodam XIV Hasanuddin. Kamu tak tahu betapa bahagiaku saat itu tak lekas juga bertepi
hingga kini.
Dari aku si gadis kaku yang pernah kamu dan kawanmu
menyebutnya ‘pecinta yang tersesat’. Terima kasih Tuan Abu-Abu----ku,.
--darmianiys

Mau ketawa tpi takut nnti tersinggung ko hehe..
BalasHapusBerdoalah semoga tdak ada teman angkatan ta yang baca ini.
Ternyata perasaanmu ke dia sampe segitunya. Dia yang pertama. Hebat *plokplokplok*
Sambil baca ini brfikir ka, pernah ka kah merasakan begitu juga ke cwok? Dan jawabannya, pernah. Dia mi yg jadi suamiku sekarang 😁😁😁
Silakan ketawa kalau mau ketawa. Tak ada yang melarang. Tak akan ada yang tersinggung. Memang apa yang kau baca pantas untuk diketawai, bagaimana tidak? Tokoh AKU dalam cerita itu sebenarnya sangat bodoh. Tapi kalau saya jadi AKU, saya tidak akan pernah menyesal memiliki perasaan sebesar itu kepadanya, wkwkwk alay hahaha
HapusUntuk teman angkatan, sebenarnya ada satu makhluk Tuhan yang saya takutkan, manusia paling out of the box yang pernah saya kenal, sebut saja namanya irfan hahaha. Orang kedua setelah kau yg tau link blog ini. Bedanya, kau kuberitahu, sedangkan dia tidak. Ah, sampai sekarang saya tidak tau darimana dia bisa tau.
Untuk dia yang pertama dan kau bilang itu hebat, sebenarnya saya agak kesal membacanya. Bodohnya, itu benar:(
Alhamdulillah, kau orang yang beruntung menurutku. Dia yang pertama bagimu, lalu membalas perasaanmu. Tidak seperti kisah temanmu. Haha. Sekarang, semoga saja dia akan menjadi the one and only serta teman hidup di dunia maupun di akhiratmu kelak. Aamiin.
Jadi keluarga yang rukun yaa