Januari 15, 2018

Perkara dan Persaudaraan




Sebegitu berharganyakah tanah perkara sehingga berani memutuskan tali persaudaraan? Sebegitu mahalkah tanah perkara sehingga mampu untuk membeli persaudaraan? Zaman apa ini? Zaman pembodohan!
Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Bukannya memberi masalah. Bukannya mengajak untuk bermasalah.
Kita hidup di dunia untuk mencari bekal demi kehidupan di alam abadi, bukan mencari bekal untuk kehidupan masa depan yang belum tentu akan kita jalani.
Tuhan memberi kita mulut untuk membela agama-Nya, untuk membicarakan hal-hal positif, untuk memberikan solusi dari masalah yang ada. Bukannya untuk menceritakan keburukan orang lain, bukan untuk membicarakan hal-hal yang mengundang masalah.
Hari-hari dimana persaudaraan itu masih ada, ketika saling percaya itu masih ada, ketika rasa saling menghargai itu masih ada, ketika damai masih memutuskan untuk tinggal, ketika tamak masih belum menguasai diri, ketika egoisme masih memilih untuk menjauh, ketika kesalahpahaman belum menyapa, adakah yang menyadari akan datang hari-hari seperti saat ini?
Aku tidak menyangka hari seperti ini ada. Aku selalu berpikir, kita se-darah, kita lahir di tempat yang sama, kita tumbuh di lingkungan yang sama, mana mungkin pada akhirnya kita tak lagi bersama? Mana mampu otakku mencerna bahwa pada akhirnya kita bermusuhan?
Dulu, hari-hari yang kita jalani membawa kebahagiaan, selalu sejalan, sama sekali aku tidak pernah berpikir bahwa pada akhirnya kita berbeda haluan.
Jika saja ada jalan untuk kembali sepemahaman seperti dulu, bisakah? Tidak, maukah kita kembali?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law