Sebegitu berharganyakah tanah
perkara sehingga berani memutuskan tali persaudaraan? Sebegitu mahalkah
tanah perkara sehingga mampu untuk membeli persaudaraan? Zaman apa ini? Zaman
pembodohan!
Sebaik-baiknya manusia adalah
yang memberikan manfaat bagi orang lain. Bukannya memberi masalah. Bukannya
mengajak untuk bermasalah.
Kita hidup di dunia untuk
mencari bekal demi kehidupan di alam abadi, bukan mencari bekal untuk kehidupan
masa depan yang belum tentu akan kita jalani.
Tuhan memberi kita mulut untuk
membela agama-Nya, untuk membicarakan hal-hal positif, untuk memberikan solusi
dari masalah yang ada. Bukannya untuk menceritakan keburukan orang lain, bukan
untuk membicarakan hal-hal yang mengundang masalah.
Hari-hari dimana persaudaraan
itu masih ada, ketika saling percaya itu masih ada, ketika rasa saling
menghargai itu masih ada, ketika damai masih memutuskan untuk tinggal, ketika
tamak masih belum menguasai diri, ketika egoisme masih memilih untuk menjauh,
ketika kesalahpahaman belum menyapa, adakah yang menyadari akan datang
hari-hari seperti saat ini?
Aku tidak menyangka hari
seperti ini ada. Aku selalu berpikir, kita se-darah, kita lahir di tempat yang
sama, kita tumbuh di lingkungan yang sama, mana mungkin pada akhirnya kita tak
lagi bersama? Mana
mampu otakku mencerna bahwa pada akhirnya kita bermusuhan?
Dulu, hari-hari yang kita
jalani membawa kebahagiaan, selalu sejalan, sama sekali aku tidak pernah
berpikir bahwa pada akhirnya kita berbeda haluan.
Jika saja ada jalan untuk
kembali sepemahaman seperti dulu, bisakah? Tidak, maukah kita kembali?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar