Antara IPDN dan UINAM. Antara mimpi dan kenyataan.
Antara keinginan dan realita. Karena ketidaksesuaian antara keinginan dan
realita merupakan definisi dari masalah. Maka, apa yang akan kubahas ini adalah
sebuah masalah. Sebuah kesalahan yang sudah berjalan selama 3 semester lamanya.
Mimpi dan keinginanku adalah melanjutkan studi di IPDN (Institut Pemerintahan
Dalam Negeri), sejak dulu, sejak aku masih belum bisa membedakan antara baik
dan buruk. Tapi pada kenyataannya, Allah berkehendak lain. Entah apa yang
direncanakan-Nya. Ketika masalah ini baru saja datang, saat itu aku merasa
jatuh. Dan untuk kali pertama, aku merasa Allah tidak mengabulkan do’a,
cita-cita, dan harapanku perihal dunia akademikku.
Sekarang aku hanya tinggal menjalani apa kehendak-Nya,
mencoba bekerja sama dengan-Nya perihal rencana-Nya mengatur jalan hidupku.
Tapi sebelum aku masih belum benar-benar bisa menerima kenyataan yang ada,
beberapa teman seperjuanganku datang membawa kabar baik yang entah bagaimana membuatku
minder, membuatku kurang percaya diri. Namun aku bersyukur mereka tidak
sepertiku, aku bersyukur mereka bisa menjadikan mimpi mereka menjadi kenyataan.
Tidak sepertiku.
Saat itu aku berpikir, apakah yang kurang dari diriku?
Apakah yang mereka lakukan dan tidak aku lakukan? Apakah yang mereka miliki dan
aku tidak memilikinya? Jawabannya: “Oke fix, aku memang kurang berusaha.”
Selama kurang dari 3 semester, aku seperti menjalani
kehidupanku tidak dengan perasaan senang, tidak dengan perasaan ikhlas, dan
tidak dengan perasaan tulus. Aku masih belum bisa menerima apa yang ditakdirkan
padaku. Aku masih belum mengerti, apakah itu baik untukku jika tidak sesuai dengan
apa inginku?
Tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah mengerti, dan aku
sudah sangat menerima. Aku sudah tahu alasan aku berada di tempat ini, di
Jurusan Matematika ini, di Fakultas Sains dan Teknologi ini, dan di UIN
Alauddin Makassar ini.
Kupikir sekarang aku sudah tahu, bahwa Allah memberikan
apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dan aku salah besar
perihal aku mengatakan bahwa ini adalah sebuah masalah. Ini sudah menjadi
rezeki-ku untuk menerima apa yang diberikan padaku dengan ikhlas. Dan aku harus
bersyukur karena hal itu. Aku mesti bersyukur karena Allah masih menyayangiku
dengan menginginkanku berada di tempat ini. Karena kupikir, dulu aku telah
sering menyalahi aturan-Nya. Aku telah sering lupa diri.
Terima kasih UINAM! Big thanks my Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar