Rumahku, Pallangga.
18 April 2020.
Sampai Jadi Debu milik Banda Neira terus berbunyi. Dengan headseat bercokol dikedua telinga, aku
duduk di depan laptop di bawah atap ruang keluarga.
Sekali lagi, sore itu di bawah langit kamar dengan derai derai air menghujani
atap rumah, aku menemukan wajahku basah oleh air mata, sekali lagi. Novel
sepasang yang melawan, adalah berhasil.
Sekali lagi, El pergi sebagai petualang yang meninggalkan kenyamanan
hiruk pikuk kota dan menjalani kehidupannya yang merdeka. Sekali lagi Sekar
pergi untuk menemukan kekasihnya, menemukan dirinya dalam diri El. She found
herself. Akhirnya mereka berhasil, mereka pulang.
Sepasang yang melawan, novel
dwilogi karya Jazuli Imam yang akrab disapa Bang Juju. Dengan gaya penulisan
sederhana namun menyentuh. Selain memberikan ilmu, aku juga mendapatkan
pengalaman sebagai pejalan dan petualang. Novel yang ‘mahal’ bagiku. Semakin
lama membaca, aku semakin banyak mendapatkan ajaran mencinta alam dan
berkemanusiaan—seperti antusias hidup sang pencipta El. Atau antusias hidup El
sendiri.
Novel yang memiliki sudut pandang
tempat yang ada dalam kehidupan nyata, semakin mendukung keyakinanku tentang
benar adanya seorang El di sini, di duniaku, bukan hanya seorang tokoh dalam
novel. Djeladjah, yang memiliki tagline
kopi, buku, cinta dengan segala filosofinya, benar-benar membuatku ingin segera
terbang ke negeri pelajar Yogyakarta—Jika saja tidak terkendala situasi dan
kondisi. Rinjani, Merbabu, Merapi, ahhh betapa aku ingin menelusuri
bagian-bagian dunia yang memiliki keindahan melebihi batas itu. Betapa aku juga
ingin menikmati bagian dunia yang belum tersentuh oleh tangan tangan lembut
kapitalisme.
Akhir dari buku Sepasang Yang Melawan 1, membuatku sadar jika akan ada
saatnya setiap manusia melakukan khilaf
dan kesalahan. Seperti El. Menurutku El telah melakukan kesalahan dengan
meninggalkan dan menghilang dari kehidupan Sekar. El memenuhi sisi egois dalam
dirinya dengan melakukannya. Tanpa pernah berpikir apa yang sebenarnya
diinginkan oleh Sekar. Tanpa pernah berpikir siapa yang benar-benar bisa
membuat Sekar bahagia. El egois. Dan karenanya, Sekar menjadi sosok yang
kehilangan dirinya yang lain, ia membutuhkan El.
Tentang Sepasang Yang Melawan 2,
aku benar-benar menyayangkan bahwa dari kedua buku favorit ini tidak ada yang akhirnya
bahagia (maksudku happily ever after),
untuk kaum pembaca musiman sepertiku, aku benar-benar berharap bahwa El dan
Sekar berumur panjang dan bahagia hingga akhir—hal yang lucu sebenarnya. Tapi
sudah cukup untuk mengurangi kekecewaanku akan akhir dari buku tersebut, dengan
Sekar yang mengatakan “kami berhasil”, “kita pulang”, “Kami berhasil Tuhan,
seperti kataMu, kami telah menolak tunduk pada apapun selain padaMu. Kami
pulang”. Dan, aku benar-benar merinding membacanya, tidak lupa dengan air mata
yang menolak absen untuk saat-saat seperti itu. Mereka, El dan Sekar bahagia
dengan caranya. :”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar