April 19, 2020

Catatan Sepasang Yang Melawan


Rumahku, Pallangga.

18 April 2020.

Sampai Jadi Debu milik Banda Neira terus berbunyi. Dengan headseat bercokol dikedua telinga, aku duduk di depan laptop di bawah atap ruang keluarga.


Sekali lagi, sore itu di bawah langit kamar dengan derai derai air menghujani atap rumah, aku menemukan wajahku basah oleh air mata, sekali lagi. Novel sepasang yang melawan, adalah berhasil.
Sekali lagi, El pergi sebagai petualang yang meninggalkan kenyamanan hiruk pikuk kota dan menjalani kehidupannya yang merdeka. Sekali lagi Sekar pergi untuk menemukan kekasihnya, menemukan dirinya dalam diri El. She found herself. Akhirnya mereka berhasil, mereka pulang.


Sepasang yang melawan, novel dwilogi karya Jazuli Imam yang akrab disapa Bang Juju. Dengan gaya penulisan sederhana namun menyentuh. Selain memberikan ilmu, aku juga mendapatkan pengalaman sebagai pejalan dan petualang. Novel yang ‘mahal’ bagiku. Semakin lama membaca, aku semakin banyak mendapatkan ajaran mencinta alam dan berkemanusiaan—seperti antusias hidup sang pencipta El. Atau antusias hidup El sendiri.

Novel yang memiliki sudut pandang tempat yang ada dalam kehidupan nyata, semakin mendukung keyakinanku tentang benar adanya seorang El di sini, di duniaku, bukan hanya seorang tokoh dalam novel. Djeladjah, yang memiliki tagline kopi, buku, cinta dengan segala filosofinya, benar-benar membuatku ingin segera terbang ke negeri pelajar Yogyakarta—Jika saja tidak terkendala situasi dan kondisi. Rinjani, Merbabu, Merapi, ahhh betapa aku ingin menelusuri bagian-bagian dunia yang memiliki keindahan melebihi batas itu. Betapa aku juga ingin menikmati bagian dunia yang belum tersentuh oleh tangan tangan lembut kapitalisme.

Akhir dari buku Sepasang Yang Melawan 1, membuatku sadar jika akan ada saatnya setiap manusia melakukan khilaf dan kesalahan. Seperti El. Menurutku El telah melakukan kesalahan dengan meninggalkan dan menghilang dari kehidupan Sekar. El memenuhi sisi egois dalam dirinya dengan melakukannya. Tanpa pernah berpikir apa yang sebenarnya diinginkan oleh Sekar. Tanpa pernah berpikir siapa yang benar-benar bisa membuat Sekar bahagia. El egois. Dan karenanya, Sekar menjadi sosok yang kehilangan dirinya yang lain, ia membutuhkan El.

Tentang Sepasang Yang Melawan 2, aku benar-benar menyayangkan bahwa dari kedua buku favorit ini tidak ada yang akhirnya bahagia (maksudku happily ever after), untuk kaum pembaca musiman sepertiku, aku benar-benar berharap bahwa El dan Sekar berumur panjang dan bahagia hingga akhir—hal yang lucu sebenarnya. Tapi sudah cukup untuk mengurangi kekecewaanku akan akhir dari buku tersebut, dengan Sekar yang mengatakan “kami berhasil”, “kita pulang”, “Kami berhasil Tuhan, seperti kataMu, kami telah menolak tunduk pada apapun selain padaMu. Kami pulang”. Dan, aku benar-benar merinding membacanya, tidak lupa dengan air mata yang menolak absen untuk saat-saat seperti itu. Mereka, El dan Sekar bahagia dengan caranya. :”)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law