Mei 02, 2019

Friend Always Will Be Friend


Kamis, 02 Mei 2019

Assalamualaikum!

#NowListening: 7!!-Orange

Bolehkah aku merasa menyesal? Aku tidak tahu akibatnya akan menjadi seperti ini. Aku menyesal telah mengatakan kalimat sakral itu. Ya, walaupun mungkin ia hanya menganggapnya angin lalu. Aku benar-benar merasa malu. Apa yang akan kulakukan jika nanti aku bertemu dengannya? Mau kusembunyikan kemana tubuh besarku ini?

Jika kuingat kembali, aku merasa telah melakukan kesalahan besar. Bagaimana bisa seorang perempuan mengatakan hal itu terlebih dulu? Kemarin, tepatnya 29 April, aku telah melanggar prinsip masa kecilku. Aku benar-benar merasa malu. Bukan hanya kepadanya, tapi lebih kepada diriku sendiri. Kenapa aku seperti ini? Bahkan, orang yang sudah pasti kusukai saja, tak pernah kuberitahukan hal itu. Semuanya akan menjadi cukup hanya dengan berdiam dan menyimpannya sendiri. Sejauh ini, hingga umurku menghampiri 20 tahun, tidak seorang lelaki pun yang kuberitahukan tentang perasaanku, tentang apa yang kurasakan kepadanya. Sekalipun orang itu adalah ‘first love’ ku. Bodoh kan?

Bagaimana aku bisa seceroboh itu? Kupikir saat itu aku telah kehilangan kendali diri. Apakah sebegitu rindunya? Huwaaaaaa:’((((. Dia pasti sudah menganggap aku perempuan gila. Perempuan yang tidak tahu malu. Perempuan yang suka kehilangan kontrol. Perempuan lebay. Kenapa rasanya sedih sekali?:(

Untuk judul dari tulisan ini, tiba-tiba saja muncul dalam pikiranku ketika lagu Orange pertama kali terputar. Tentunya sepaket dengan dia, sang pemberi film yang soundtrack-nya adalah Orange ini.

Oh iya, dibalik perasaan malu dan menyesal telah mengatakannya. Ada rasa lega yang tak terhindar dan aku merasa senang karenanya. Begitukah perasaan orang-orang yang jujur dengan hatinya? Orang-orang yang mampu berdamai dengan perasaannya? Orang-orang yang tidak terikat akan prinsip 'perempuan sudah ditakdirkan untuk menunggu dan menerima'? Orang-orang yang berani akan risiko kehilangan dan melepaskan?

Jangan salah sangka tentang rasa penyesalanku mengatakannya. Aku hanya tidak ingin jika apa yang kulakukan mempengaruhi pertemanan kami. Aku tidak ingin ada rasa canggung—yang sudah pasti ada setelah kejadian ini. Setidaknya, aku yang merasa canggung dihadapannya.

Sudahlah, aku hanya berharap tidak ada yang berubah diantara kami. Dia tetap menjadi temanku dan aku menjadi temannya.

~

Lucu juga, aku merasa aku telah menyerah.
Padahal berjuang saja tidak pernah ada dalam agendaku sebelumnya.
Perihal rindu, jika aku tak lagi mampu
Diam dan tunggu saja hingga dibunuh waktu

-dys

1 komentar:

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law