Februari 24, 2019

Selamat Tinggal (Kamu)!


Assalamualaikum!

Kepada kalian, para pembaca setia ataupun pembaca yang secara tidak sengaja menemukan laman blog tidak jelas ini, aku ingin mengucapkan terima kasih. Sebab kalianlah alasan untuk aku kembali ke sini. Tempat aku ‘pulang’. Tempat untuk aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa ada campur-tangan pihak luar. Tempat aku menemukan ‘aku’. Kemarin aku sempat hengkang dan tidak muncul untuk sekadar menulis kegiatan sehari-hari. Karena beberapa alasan pribadi yang bersifat sentimental. Tentunya aku akan menceritakannya. Karena di sinilah, aku bisa secara bebas bercerita. Tanpa takut kalian akan tertawa mengejekku. Aku bisa dengan mudah mengeluarkan segala keluh kesah dan isi kepala yang selalu menumpuk untuk kemudian mendorong jemariku agar bergerak menari di atas keyboard dan mengisahkannya dalam aksara. Telanjang tanpa sehelai ragu, aku percaya bahwa inilah tempat untuk aku bisa bercerita tanpa tedeng aling-aling.

Aku pernah begitu kecewa. Aku merasa bahwa akulah yang paling merasakan sakit. Aku berpikir bahwa akulah yang paling tersakiti dalam kisah ini. Aku merasa paling sedih, sampai-sampai tidak memiliki perhatian lagi kepada dunia yang kupijak. Jangankan dunia, perhatian kepada diriku pun, aku seolah lupa. Aku mendadak menghilang dari dunia. Aku menghilang dari diriku sendiri, berharap bisa menghilang dari rasa sakit yang terus mencekam. Namun tetap saja, sesuatu dalam diriku meneriakkan luka. Aku kehilangan diriku.

Sampai akhirnya aku sadar. Tidak ada gunanya bersikap egois seperti ini. Ya, sebut saja aku egois. Aku hanya memikirkan sakitku sendiri. Aku hanya memikirkan satu lukaku sendiri. Tanpa berpikir di luar sana orang-orang sedang sibuk memantaskan diri. Orang-orang setiap hari berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Sampai akhirnya aku sadar. Luka yang kurasakan tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kisah dalam novel-novel yang sempat kubaca. Luka yang kupikir begitu menyiksa tidaklah seperih jika dibandingkan dalam cerita roman yang sering membuatku menitikkan air mata. Tapi tetap saja, merasakannya sendiri, membawa dampak yang begitu berarti untukku. Aku pernah merasa hilang, sampai akhirnya sadar, tidak ada yang lebih indah dari keikhlasan dan penerimaan.
Hidup adalah perjalanan. Perjalanan setiap orang untuk kemudian merasakan pertemuan dan menemui perpisahan itu sendiri. Sadar atau tidak, pertemuan adalah gerbong menuju perpisahan. Dan diantara pertemuan dan perpisahan itulah terdapat perjalanan-perjalanan. Perjalanan untuk setiap orang, apakah mampu untuk ikhlas dan menerima, atau hanya pasrah sambil diam-diam mengutuk teka-teki Tuhan yang bernama takdir.

            ~Malam ini, di bawah atap rumah di sudut kamar. Ditemani suara hujan dan petir yang menggelagar. Aku menemukan diriku ketakutan. Seorang diri.~

Menulis sambil di temani suara hujan dan petir yang meraung-raung, tak pernah ada dalam agendaku sebelumnya. Tentu saja ada efek yang berbeda. Untuk kali pertama, aku benci berada di rumah seorang diri. Untuk kali pertama, aku tidak menginginkan kehadiran hujan. Untuk kali pertama pula, aku benci kesunyian. Hening, lengang, senyap. Aku kesepian.

Untuk waktu beberapa minggu. Aku menghilang dari dunia, sebut saja begitu. Sebelumnya aku tidak pernah begitu lama muncul di laman ini. Sebelumnya aku selalu menyempatkan diri untuk membuka media sosial, sekadar memberi kabar kepada kawanku. Kali ini aku benar-benar menghilang. Menghilang dari kampus, menghilang dari media sosial, menghilang dari dunia literasi yang begitu kucintai.

Kini aku kembali dengan sejuta semangat. Yang semoga saja mampu mengusir sisa-sisa duka akibat luka yang tak terduga. Tidak, itu harus, wajib sifatnya.

Kini aku bisa menerima, baik luka ataupun seseorang yang menyebabkan luka. Setiap bahagia, bukan tidak mungkin untuk melahirkan luka. Begitu juga sebaliknya. Dan kini aku mengerti, mengapa Tuhan memberiku luka.

#NowListening: Kacey Musgraves-Space Cowboy

You can have your space cowboy... After the gold rush there ain’t no reason to stay... Should learned from the movies that good guys don’t run away...

Kepada sang pemberi luka:
Setiap kali mengingat duka,
aku harap yang kau alami adalah suka
dan dibalik tangis yang kian melemah,
diam-diam kuharapkan tawamu renyah

Kini aku mengerti,
mengapa kau memutuskan pergi
Jangan khawatir,
aku sudah di penghujung senja untuk kehidupan yang getir.
Oh tidak, tidak perlu bersusah payah untuk sekadar peduli
Aku cukup tahu, ada yang lebih perlu dari diriku.

Selamat tinggal luka
Selamat tinggal duka
Selamat tinggal kamu.

~dys (catatan di suatu malam yang kelam, di bawah langit yang dipayungi hujan dan guntur yang melebur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law