Assalamualaikum!
Kepada kalian, para
pembaca setia ataupun pembaca yang secara tidak sengaja menemukan laman blog
tidak jelas ini, aku ingin mengucapkan terima kasih. Sebab kalianlah alasan
untuk aku kembali ke sini. Tempat aku ‘pulang’. Tempat untuk aku bisa menjadi
diriku sendiri tanpa ada campur-tangan
pihak luar. Tempat aku menemukan ‘aku’. Kemarin aku sempat hengkang dan tidak
muncul untuk sekadar menulis kegiatan sehari-hari. Karena beberapa alasan
pribadi yang bersifat sentimental. Tentunya aku akan menceritakannya. Karena di
sinilah, aku bisa secara bebas bercerita. Tanpa takut kalian akan tertawa mengejekku.
Aku bisa dengan mudah mengeluarkan segala keluh kesah dan isi kepala yang
selalu menumpuk untuk kemudian mendorong jemariku agar bergerak menari di atas keyboard dan mengisahkannya dalam
aksara. Telanjang tanpa sehelai ragu, aku percaya bahwa inilah tempat untuk aku
bisa bercerita tanpa tedeng aling-aling.
Aku pernah begitu
kecewa. Aku merasa bahwa akulah yang paling merasakan sakit. Aku berpikir bahwa
akulah yang paling tersakiti dalam kisah ini. Aku merasa paling sedih,
sampai-sampai tidak memiliki perhatian lagi kepada dunia yang kupijak.
Jangankan dunia, perhatian kepada diriku pun, aku seolah lupa. Aku mendadak
menghilang dari dunia. Aku menghilang dari diriku sendiri, berharap bisa
menghilang dari rasa sakit yang terus mencekam. Namun tetap saja, sesuatu dalam
diriku meneriakkan luka. Aku kehilangan diriku.
Sampai akhirnya aku
sadar. Tidak ada gunanya bersikap egois seperti ini. Ya, sebut saja aku egois.
Aku hanya memikirkan sakitku sendiri. Aku hanya memikirkan satu lukaku sendiri.
Tanpa berpikir di luar sana orang-orang sedang sibuk memantaskan diri.
Orang-orang setiap hari berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Sampai
akhirnya aku sadar. Luka yang kurasakan tidaklah seberapa jika dibandingkan
dengan kisah dalam novel-novel yang sempat kubaca. Luka yang kupikir begitu
menyiksa tidaklah seperih jika dibandingkan dalam cerita roman yang sering
membuatku menitikkan air mata. Tapi tetap saja, merasakannya sendiri, membawa
dampak yang begitu berarti untukku. Aku pernah merasa hilang, sampai akhirnya
sadar, tidak ada yang lebih indah dari keikhlasan dan penerimaan.
Hidup adalah
perjalanan. Perjalanan setiap orang untuk kemudian merasakan pertemuan dan menemui
perpisahan itu sendiri. Sadar atau tidak, pertemuan adalah gerbong menuju
perpisahan. Dan diantara pertemuan dan perpisahan itulah terdapat
perjalanan-perjalanan. Perjalanan untuk setiap orang, apakah mampu untuk ikhlas
dan menerima, atau hanya pasrah sambil diam-diam mengutuk teka-teki Tuhan yang
bernama takdir.
~Malam ini, di
bawah atap rumah di sudut kamar. Ditemani suara hujan dan petir yang
menggelagar. Aku menemukan diriku ketakutan. Seorang diri.~
Menulis sambil di
temani suara hujan dan petir yang meraung-raung, tak pernah ada dalam agendaku
sebelumnya. Tentu saja ada efek yang berbeda. Untuk kali pertama, aku benci
berada di rumah seorang diri. Untuk kali pertama, aku tidak menginginkan
kehadiran hujan. Untuk kali pertama pula, aku benci kesunyian. Hening, lengang,
senyap. Aku kesepian.
Untuk waktu beberapa
minggu. Aku menghilang dari dunia, sebut saja begitu. Sebelumnya aku tidak
pernah begitu lama muncul di laman ini. Sebelumnya aku selalu menyempatkan diri
untuk membuka media sosial, sekadar memberi kabar kepada kawanku. Kali ini aku
benar-benar menghilang. Menghilang dari kampus, menghilang dari media sosial,
menghilang dari dunia literasi yang begitu kucintai.
Kini aku kembali dengan
sejuta semangat. Yang semoga saja mampu mengusir sisa-sisa duka akibat luka
yang tak terduga. Tidak, itu harus, wajib sifatnya.
Kini aku bisa menerima,
baik luka ataupun seseorang yang menyebabkan luka. Setiap bahagia, bukan tidak
mungkin untuk melahirkan luka. Begitu juga sebaliknya. Dan kini aku mengerti,
mengapa Tuhan memberiku luka.
#NowListening:
Kacey Musgraves-Space Cowboy
You can have your space cowboy... After the gold
rush there ain’t no reason to stay... Should learned from the movies that good
guys don’t run away...
Kepada
sang pemberi luka:
Setiap
kali mengingat duka,
aku
harap yang kau alami adalah suka
dan
dibalik tangis yang kian melemah,
diam-diam
kuharapkan tawamu renyah
Kini
aku mengerti,
mengapa
kau memutuskan pergi
Jangan
khawatir,
aku
sudah di penghujung senja untuk kehidupan yang getir.
Oh
tidak, tidak perlu bersusah payah untuk sekadar peduli
Aku
cukup tahu, ada yang lebih perlu dari diriku.
Selamat
tinggal luka
Selamat
tinggal duka
Selamat
tinggal kamu.
~dys
(catatan di suatu malam yang kelam, di bawah langit yang dipayungi hujan dan
guntur yang melebur)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar