Parangbanoa,
28 Juni 2018
Dulu, dia mungkin menjadi
alasan utamaku untuk rajin mengikuti kegiatan itu. Tapi sekarang, ia menjadi
alasan utamaku untuk tidak menghadiri kegiatan itu. Dulu, aku datang ke tempat
itu karena ingin melihatnya. Tapi sekarang , aku datang ke tempat itu karena
ingin menghindarinya.
Semalam, aku tidak bisa
menutup mataku dengan tenang. Selain dari rasa sakit di tenggorokanku, aku
memiliki rasa sakit di bagian dalam dadaku. Tapi rasa sakit itu tidak penting.
Setidaknya, aku telah memiliki alasan untuk bangkit kembali. Tidak lagi
terkungkung oleh lagu-lagu dan kata-kata sedih. Semuanya tergantikan oleh lagu
rock dan kata-kata yang memaksaku terlepas dari perasaan sepihak, yang selama
ini memenjarakan pikiran logis dan bahagiaku.
Semalam, tekadku telah
bulat. Untuk membuktikan bahwa aku tidak lagi memiliki perasaan apapun padanya,
bahkan hanya perasaan kepada seorang teman, aku ingin memblokir semua media
sosial dirinya yang berhubungan denganku. Demi meredam segala rasa ingin tahuku
tentangnya.
Dia sepertinya tidak
tahu, diamnya seorang perempuan adalah bentuk perasaan tulus kepada lelakinya.
Tapi diamnya seorang lelaki adalah bentuk kejahatan paling mematikan kepada
perempuannya.
Semalam, tepat pukul 02:42 dia telah memukulku telak. Dia
telah berhasil membuktikan bahwa orang yang begitu kusukai adalah laki-laki
terjahat sedunia. Dia memberitahuku sendiri bahwa selama ini aku telah menyukai
orang yang salah. Perasaan yang kumiliki adalah salah. Aku telah melakukan
kesalahan dengan menyukai orang yang seperti dirinya.
Terima kasih telah
menunjukkan sikap seolah kau memberi harapan, juga terima kasih telah
menunjukkan sikap seolah kau tak pernah memberi harap.
~Ah, bodoh memang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar