April 25, 2018

Aku bukan Fatimah, bukan juga Hinata. Aku adalah diriku #6


muslim.or
Parangbanoa, 24 April 2018. 20:10 WITA
Sekarang aku sedang di kamarku, baru saja sampai dari Samata, Pondok Faris. Dan baru saja mendengar kabar yang entah mengapa membuatku seperti kehilangan selera untuk tersenyum lagi, membuatku seperti merasa ada yang aneh dengan kesehatan jantungku, aku seperti sedih. Rasanya sedih sekali.
Beberapa detik mendengar kabar itu, aku merasa biasa saja, karena aku memang sudah tahu (lebih tepatnya menerka-nerka dan ternyata benar). Tapi ketika aku mulai benar-benar menyadari bahwa faktanya memang seperti itu, ada yang terasa perih, sampai-sampai aku menangis. Di depan kawan-kawanku.
Hari ini, sudah dipastikan perasaanku kepadanya adalah resmi merupakan perasaan sepihak, tak berbalas, sendirian.
Baiklah, aku akan menceritakan mengapa aku mengatakan itu, alasan air mataku terjatuh, penyebab aku merasa sedih.
Tadi ketika menjelang maghrib, aku masih di Pondok Faris bersama kawanku, Ilma dan Uki. Kami menunggu Caca dan Ninos yang masih di kampus karena alasan yang tidak jelas, untuk membahas beberapa masalah tentang salah satu di antara mereka, tanpa ku tahu hari itu juga kami akan membahas tentang aku kepadanya, tentang dia kepadaku, tentang kami.
Aku bersyukur karena memiliki kawan seperti mereka. Mereka adalah teman yang aku mau. Mereka adalah teman yang ku butuhkan. Mereka mengerti apa yang ku rasakan, mereka mencari tahu tanpa ku suruh. Dan aku sangat menyayangi mereka, entah sejak kapan. Berhenti membahas kawanku, lain kali akan ku luangkan waktu untuk menulis khusus tentang mereka.
Tadi, Caca memimpin pembicaraan.
C: Nutaukah siapa 016?
Dia:  Iya, kentara sekaliji.
C: Inisialnya?
Dia:  D.
C: Berapa huruf?
Dia:  (menghitung)… lima! Teman kelompokka di perkusi.
C: Sotta, sejak kapan nutau?
Dia:  Lamami, sekitar dua atau tiga bulan yang lalu.
C: Sekarang nutaumi toh? Jadi bagaimana ini?
Dia: Dari SD sampai SMA, tidak pernahka berada dalam situasi seperti ini. Barupaka rasa pas        kuliah. Di semester awal, ada seseorang, jurusan Matematikaji, 016 juga begitu ke saya. Makanya bikinka rumor tentang itu jodoh-jodoh, supaya menjauhki.
C: Jadi apa maumu?
Dia: Pertama, saya bukan tipe orang yang mau berkomitmen. Kedua, saya tidak suka diatur-atur karena saya punya kemerdekaan individu. Ketiga, saya tidak suka dikekang. Keempat, kalo sukaka dengan seseorang sampai terlalu sayang, baru itu orang tinggalkanka, hancurka. Jadi, mauja saja berteman.
C: Ada perasaanmu sama diakah?
Dia: Perasaanku ke dia sama seperti perasaanku ke kalian.
C: Untuk ke depannya juga?
Dia: Iya.
Rasanya, separuh sedih, separuh senang. Aku merasa senang karena apa yang dia katakan kepada kawanku, apa yang dia jelaskan perihal dirinya, itu sama dengan prinsipku selama ini. Aku juga bukan tipe orang yang mau berkomitmen. Aku juga bukan tipe orang yang setuju untuk berpacaran. Sudah menjadi kemauanku untuk memiliki perasaan diam diam dan terpendam. Dan sudah menjadi pilihanku agar orang yang terlibat dengan perasaanku tidak mengetahui apa yang kurasakan. Hingga tiba saat yang Dia tentukan.
Dan alasan aku merasa sedih, sudah ku katakan tadi, perasaanku untuknya telah resmi sebagai perasaan yang  bertepuk sebelah tangan. Itu saja. But now, I know I’m not OK.
Dibalik perasaan sedih, ada perasaan kecewa karena ucapannya. Untuk apa dia mengatakan kepada kawanku untuk memberitahuku bahwa dirinya tidaklah dijodohkan? Jika dia sudah tahu bahwa akulah orang yang menyukainya diam diam selama ini, untuk apa dia bertanya kepada kawanku tentang siapa sebenarnya orang yang menyukainya, dan mengatakan jika orang itu tidak mau, dia yang akan maju duluan? Kenapa seperti itu? Baik dia sengaja ataupun tidak, secara tidak langsung dia telah membuatku berharap kepadanya. Dia membuatku merasa bahwa perasaanku tidaklah sepihak. Ataukah aku yang terlalu mudah berharap? Perasaanku yang terlalu mudah menerima hal-hal yang membuat senang?
Terima kasih ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law