Parangbanoa,
24 April 2018. 20:10 WITA
Sekarang aku sedang di kamarku, baru
saja sampai dari Samata, Pondok Faris. Dan baru saja mendengar kabar yang entah
mengapa membuatku seperti kehilangan selera untuk tersenyum lagi, membuatku
seperti merasa ada yang aneh dengan kesehatan jantungku, aku seperti sedih.
Rasanya sedih sekali.
Beberapa detik mendengar kabar itu,
aku merasa biasa saja, karena aku memang sudah tahu (lebih tepatnya
menerka-nerka dan ternyata benar). Tapi ketika aku mulai benar-benar menyadari
bahwa faktanya memang seperti itu, ada yang terasa perih, sampai-sampai aku
menangis. Di depan kawan-kawanku.
Hari ini, sudah dipastikan perasaanku
kepadanya adalah resmi merupakan perasaan sepihak, tak berbalas, sendirian.
Baiklah, aku akan menceritakan mengapa
aku mengatakan itu, alasan air mataku terjatuh, penyebab aku merasa sedih.
Tadi ketika menjelang maghrib, aku
masih di Pondok Faris bersama kawanku, Ilma dan Uki. Kami menunggu Caca dan
Ninos yang masih di kampus karena alasan yang tidak jelas, untuk membahas
beberapa masalah tentang salah satu di antara mereka, tanpa ku tahu hari itu
juga kami akan membahas tentang aku kepadanya, tentang dia kepadaku, tentang
kami.
Aku bersyukur karena memiliki kawan
seperti mereka. Mereka adalah teman yang aku mau. Mereka adalah teman yang ku butuhkan.
Mereka mengerti apa yang ku rasakan, mereka mencari tahu tanpa ku suruh. Dan
aku sangat menyayangi mereka, entah sejak kapan. Berhenti membahas kawanku,
lain kali akan ku luangkan waktu untuk menulis khusus tentang mereka.
Tadi, Caca memimpin pembicaraan.
C: Nutaukah siapa 016?
Dia:
Iya, kentara sekaliji.
C: Inisialnya?
Dia:
D.
C: Berapa huruf?
Dia:
(menghitung)… lima! Teman kelompokka di perkusi.
C: Sotta, sejak kapan nutau?
Dia:
Lamami, sekitar dua atau tiga bulan yang lalu.
C: Sekarang nutaumi toh? Jadi
bagaimana ini?
Dia: Dari
SD sampai SMA, tidak pernahka berada dalam situasi seperti ini. Barupaka rasa
pas kuliah. Di semester awal, ada seseorang, jurusan Matematikaji, 016 juga begitu
ke saya. Makanya bikinka rumor tentang itu jodoh-jodoh, supaya menjauhki.
C: Jadi apa maumu?
Dia: Pertama,
saya bukan tipe orang yang mau berkomitmen. Kedua, saya tidak suka diatur-atur
karena saya punya kemerdekaan individu. Ketiga, saya tidak suka dikekang.
Keempat, kalo sukaka dengan seseorang sampai terlalu sayang, baru itu orang
tinggalkanka, hancurka. Jadi, mauja saja berteman.
C: Ada perasaanmu sama diakah?
Dia: Perasaanku ke dia sama seperti
perasaanku ke kalian.
C: Untuk ke depannya juga?
Dia: Iya.
Rasanya, separuh sedih, separuh
senang. Aku merasa senang karena apa yang dia katakan kepada kawanku, apa yang
dia jelaskan perihal dirinya, itu sama dengan prinsipku selama ini. Aku juga
bukan tipe orang yang mau berkomitmen. Aku juga bukan tipe orang yang setuju
untuk berpacaran. Sudah menjadi kemauanku untuk memiliki perasaan diam diam dan
terpendam. Dan sudah menjadi pilihanku agar orang yang terlibat dengan
perasaanku tidak mengetahui apa yang kurasakan. Hingga tiba saat yang Dia
tentukan.
Dan alasan aku merasa sedih, sudah ku katakan
tadi, perasaanku untuknya telah resmi sebagai perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Itu saja. But now, I know
I’m not OK.
Dibalik perasaan sedih, ada perasaan
kecewa karena ucapannya. Untuk apa dia mengatakan kepada kawanku untuk
memberitahuku bahwa dirinya tidaklah dijodohkan? Jika dia sudah tahu bahwa akulah orang yang menyukainya diam diam selama ini, untuk apa dia bertanya kepada
kawanku tentang siapa sebenarnya orang yang menyukainya, dan
mengatakan jika orang itu tidak mau, dia yang akan maju duluan? Kenapa seperti
itu? Baik dia sengaja ataupun tidak, secara tidak langsung dia telah membuatku
berharap kepadanya. Dia membuatku merasa bahwa perasaanku tidaklah sepihak. Ataukah
aku yang terlalu mudah berharap? Perasaanku yang terlalu mudah menerima hal-hal
yang membuat senang?
Terima kasih ya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar