Mei 28, 2019

Kebetulan yang Ditakdirkan


28 Mei 2019

Assalamualaikum.

Aku bertemu dengannya.

seseorang yang 6 tahun lalu menjanjikan masa depan kepadaku. seseorang yang bersamaku 3 tahun lamanya, tanpa status, tanpa kepastian. Sebenarnya aku sudah tahu, kembalinya aku ke rumah 'itu' akan membawaku untuk kembali bertemu dengannya. Tapi kali ini aku tidak bisa menghindar lagi. Aku tidak lagi memiliki alasan untuk menolak datang ke rumah 'itu'. Rumah sejuta kenangan, mungkin lebih.

Oh iya, jika kamu adalah pembaca yang mengikuti tulisanku sejak awal, mungkin kamu sudah tahu. Bahwa dialah orang pertama yang menjadi objek pembahasanku di blog ini. Dialah sang pemula, yang secara tidak langsung mendorongku untuk berada di tempat ini. Menceritakan perihal pribadi yang sebenarnya tidak perlu untuk orang-orang ketahui. 

Karena waktu yang kuhabiskan tanpa bercerita tentangnya juga telah lama, aku belum memberi kabar, bahwa sebenarnya dia juga sudah tidak berada di rumah itu, setahun setelah aku pergi, dia juga kembali ke tempat asalnya.

Semalam, aku sebenarnya merasa lega ketika tahu bahwa dia tidak ada di rumah 'itu'. Tapi kemudian kelegaanku berangsur memudar ketika dia tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan akan datang. (sebelumnya aku telah mengirim story WhatsApp tentang keberadaanku).

Kamu yang membaca ini, jangan salah paham tentang perasaanku padanya. Dia sudah bukan apa-apa lagi, sudah sejak lama. Sejak tuan abu-abu hadir. Tapi bagaimanapun, waktu 3 tahun tidaklah sebentar, itu juga menjadi karena atas apa yang kulakukan sekarang. Menjadikannya perihal dalam tulisanku, kembali.

Masa lalu tetaplah masa lalu. Dia sudah memiliki kehidupan yang baru. Begitu pula denganku. Merelakan pada awalnya memang sulit, tapi perlahan-lahan akan berhasil juga, dibantu oleh datangnya orang-orang baru, yang akan membawa kenangan baru,

Perasaan memang tidak selalu konstan. Jadi jangan percaya dengan perasaan, tapi tapi, kaum mereka memang tidak menggunakan perasaan sih, hmmmm.

Jika dulu kamu adalah satu-satunya baginya, mungkin sekarang sudah salah satunya. Jika dulu dia ingin kamu menjadi pendampingnya di pelaminan, mungkin sekarang sudah menjadi pendamping mempelai wanitanya. Jika dulu kamulah yang ada dalam rencana masa depannya, mungkin sekarang sudah menjadi kenangan masa lalunya.

~

👦: "kau mau tahu, kenapa sekarang aku ada di sini?"
👧: "karena ini tempat tinggalmu" 
Pertanyaan bodoh macam apa itu?
👦: "bukan, maksudku kenapa aku betah berada di sini?"
Kali ini aku tidak bisa menjawabnya.
👧: "Gak tahu"
👦: "karena aku melihatmu datang. karena kamu ada di sini"
Bagaimana dia bisa mengucapkannya dengan ekspresi sedatar itu? 😧

~


👦: "dengar ya, nanti kau harus mencari suami seperti aku"
👧: -_-

~

👦: "mulai sekarang, kau harus belajar menyukai anak kecil"
👧: "tidak bisa"
👦: "jika tidak bisa, bagaimana dengan anak kita nanti?"
👧: "hah?"
👦: 😁
Bagaimana bisa seorang bocah 14 tahun berkata soal "anak" dan "suami"?

~
👩: "D***i, belajarlah memasak, jika kamu begini terus, siapa yang mau menjadi suamimu nanti?"
👧: "iye" 😩
👦: "jangan memaksakan diri, tenang saja, aku yang akan mengajarimu kelak"
Lagi dan lagi, bagaimana dia bisa mengucapkan hal itu dengan mudah di depan orang tua? Who do you think you are?

~
👦: "jika nanti kau sudah lulus, tidak usah kuliah ya?"
👧: "tidak bisa"
👦: "kenapa tidak bisa?"
👧: "aku ingin menjadi wanita karir"
👦: "kan ada aku, aku yang akan bekerja"
👧: "maksudnya?"
👦: "perempuan itu ya dirumah, laki-laki yang keluar untuk bekerja"
👧: "ya terus?"
👦: "kau masih belum mengerti?"
Aku hanya menggelengkan kepala. Dia kemudian bangkit dan mengacak-acak rambutku.
👦: "nanti kau juga akan mengerti. yang jelas setelah lulus aku ingin kamu kembali ke kampungmu, bantu ibumu, dan tunggu aku datang"
Dia kemudian pergi, menyisakan aku yang terdiam masih belum mengerti.

~
Sampai sekarang aku juga masih belum mengerti, apa yang ia katakan sungguh-sungguh atau bukan. Tapi bagaimanapun saat ini hal itu tidak penting lagi.

Masa lalu. Hanya itu yang bisa terlintas dalam kepalaku jika mengingatnya, memutar kembali kenangan 5/tak hingga di atas. Mungkin lain kali, ketika aku sudah mampu mengendalikan diri, aku akan menulis kembali kenangan 6 tahun lalu itu. Menulis seluruhnya, menjadi catatan masa remajaku.

Memang sekarang semua hanya tinggal kenangan.

Terima kasih,

dys

3 komentar:

  1. Tanggal tulisan 28 Mei 2019
    Tanggal upload 27 Mei 2019

    Anda trnyata seorang time traveler.
    Ddaebak!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ilma? ������ Belum selesai itu kutulis pas mu baca������

      Hapus
    2. Wkwk, pembaca ternyata lebih cepat dari pada penulis wkwkwk

      Hapus

© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law