September 20, 2021

You're Gone, But Not Forgotten

20 September 2021 #NowListening:Madison Bear - Reckless Aku tidak tahu apakah lagu yang terputar sekarang sesuai dengan kisah yang akan kuceritakan. Tapi ketika mendengar lagu ini, tiba-tiba aku mengingatnya. Dia yang tak bisa kusebut namanya. Kisahku dengannya. Seseorang yang mampu mencuri segala pusat perhatianku dalam waktu singkat, tak terduga, dan begitu saja. Aku tak pernah menduga ia akan sebegini berpengaruhnya dalam kehidupanku, bahkan setelah ia tidak denganku, bahkan setelah ia telah bersama perempuan lain. Dia bukan kriteria idealku, tapi ia berhasil mengubah pandanganku tentang kriteria ideal. Dia lebih muda dariku, salah satu alasan aku selalu menolak, pada awalnya. Karena selanjutnya aku tidak menolak lagi, walaupun aku tidak pernah secara terang-terangan menerima. Aku tidak pernah bertemu lelaki sedewasa pikirannya sebelumnya, langka sekali. Dia bahkan lebih mampu menemukan solusi daripada diriku sendiri. Dia juga pekerja keras, bahkan diusianya yang masih belasan tahun. Tapi, tetap saja ia punya sisi kekanakan. Contohnya saja ketika aku memanggilnya 'dek'. Dia pasti akan marah ataupun merajuk padaku. Tapi walaupun sedang merajuk, ia tidak pernah mendiamiku. Dia selalu mengatakan keberatannya, menjelaskan padaku hingga aku mengalah dan berjanji tidak melakukannya lagi. Sedih sekali rasanya mengingat ia kembali. Tapi aku tetap harus menerimanya, karena ini pilihanku. Akulah yang meninggalkannya lebih dulu. Akulah pelakunya, tapi rasanya akulah si korban. Dia seberpengaruh itu, soalnya. Bodoh! Kurang dari sebulan, dengan sekali pertemuan. Singkat kan? Oh iya, pertemuannya pun terjadi ketika aku sudah memutuskan untuk menghentikan hubungan--tanpa status--ku dengannya. Salah satu pertemuan yang berkesan menurutku, karena kenekatannya mendatangiku. Ketika situasi dan kondisi yang tidak bisa kusebutkan, yang saat itu membuatku berpikir ia tidak mungkin mendatangiku. Tapi dengan beraninya, ia melakukannya. Mengulurkan telapak tangan kanannya padaku, dengan aku yang saat itu masih kaget dan tidak percaya, mendadak jadi patung untuk sepuluh detik menatap tangannya. Baru ketika ia mengucapkan 'minal aidin' aku tersadar dan cepat-cepat membalas uluran tangannya. Masih teringat jelas, tangan kasar dan besar yang menggenggam tanganku dengan erat. Mungkin hanya beberapa detik. Dan selesai. Pertemuanku tidak berhenti sampai di situ. Hanya saja, krn sikon sebelumnya hanya itu kata yang sempat ia ucapkan padaku. Atau mungkin ini karma. Jujur saja, aku seringkali mempermainkan perasaan seseorang yang ingin dekat denganku, ketika mereka sudah menunjukkan sisi serius, aku menjauh dan menghindar. Begitulah aku saat itu. Bedanya aku tidak pernah terbawa perasaan sebelumnya, tidak seperti padanya. Sebenarnya aku tidak menyesal, tapi bagaimanapun juga merelakan tidak semudah dan sesingkat itu. Aku ingat pernah mengatakan pada kawan-kawanku 'aku tidak akan pernah baper sama cowo yang lebih muda', dan hasilnya here i am, apapun makanannya, minumannya adalah air ludah sendiri. Sudah bercerita panjang tapi aku belum menyebutkan namanya. Bukannya tidak mau, tapi aku tidak bisa. Menyebut namanya adalah sulit. Walaupun sudah ikhlas dan rela, mendengar namanya disebut, atau ketika membaca namanya di tulisan belakang truk, ada bagian dari diriku yang berontak tidak terima. Ada sebagian dari diriku yang mengharapkan hubungan kami kembali. Tapi, sudahlah. Semuanya telah berlalu dan itu pilihanku. Sebenarnya, bukan cuma-cuma aku memutuskan berhenti berhubungan dengannya. Dia telah melakukan satu kesalahan yang tidak bisa kutoleransi dalam hubungan. Yaitu kekerasan dan perselingkuhan. Ya, dia melakukan kesalahan pertama, kekerasan. Di malam sebelum aku memintanya menyerah dengan hubungan--tidak jelas--kami, dia membentakku. Dan bentakan bagiku adalah kekerasan secara verbal. Tidak ada toleransi untuk seseorang yang baru sekedar 'pacaran, pdkt-an dan sejenisnya'. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya kesalahannya. Dalam keadaan kami sedang menelpon, dan dia sedang bekerja aku beberapa kali meminta ia mendengarku bercerita, walau pada malam itu ia sedang sibuk. Aku tetap keukeuh memanggilnya ketika ia diam tidak merespon. Dan demikianlah hasilnya. Aku juga tidak pernah menduga bahwa itulah malam terakhir kami bercerita panjang lebar. Sisanya hanya saling marah dan menghindar. Kami tamat. Sekarang dia telah menemukan perempuan baru. Cantik dan cocok dengannya mungkin. Mereka satu kota kelahiran sebabnya. Semoga saja mereka bertahan sampai menikah. Walau sudah tidak melakukan komunikasi apapun dengannya, namanya tetap melangit dalam doa-doaku. Ia pantas bahagia. *dys

IDK you yet - My Favorite Person

 

Profil kita yang bersamaan seperti ini saja, aku sudah senang:')

Makassar, 19 September 2021

Pukul 11 malam hari.

Sudah setahun lebih, kuhabiskan waktu dengan tidak mengisi blog. Ada banyak cerita yang sudah lewat, bahagia, sedih, terharu maupun kosong. Ada juga banyak kisah yang bersambung, atau mungkin sudah tamat. Tapi, aku akan menceritakannya lain kali. Karena kali yang ini aku ingin menceritakan tentang manusia favoritku, karya seni paling indah yang kuharapkan bisa kusentuh sekali saja. Tapi sayangnya, itu hanyalah harapan belaka, banyak hal yang melarang. Semesta salah satunya.

Alasan awal vakum menulis karena sibuk dengan drama perskripsian dan wisuda. Setelahnya mungkin sibuk mencari kerja yang sesuai, mengerjakan pekerjaan yang ada, dan membatin tentang diri sendiri, sisanya kosong. 

Kembali ke topik utama, sang manusia favorit. Namanya Anshul, itu adalah nama yang ia sebutkan ketika pertama kali berkenalan denganku. Nama panggilan, karena nama lengkapnya cukup panjang dan aku ingin menjaga privasi dengan tidak menyebutkannya di sini. Panggilannya saja sudah indah bukan? Seperti orangnya. Aku yakin, ketika menciptakannya, mungkin Tuhan sedang tersenyum dan bahagia. Sedihnya, ia tidak percaya Tuhanku. 

Tahun 2019 adalah kali pertama aku mengenalnya. Kenal sepihak, karena hanya aku yang memperhatikan sedangkan ia tidak. Jadilah aku menjadi pengagum diam-diam, tapi itu sudah tidak berlaku lagi ketika 23 Juni 2020, aku berhasil mendapatkan perhatiannya dan mulai berkirim pesan melalui WhatsApp. Senang sekali rasanya, seperti mendapat perhatian Lee Minho (aktor korea favoritku sejak 2009 hingga sekarang-dan akan terus berlanjut). Jelas saja aku menyamakannya dengan Lee Minho, karena mereka berdua sama-sama tidak tergapai olehku. Ya walaupun Lee Minho tidak mungkin membalas pesan-pesanku, bertanya kabar ataupun kegiatanku, seperti sang manusia favorit, hehe.

Dia mungkin tidak tahu, betapa berdebarnya jantungku ketika melihat notifikasi pesannya di layar handphoneku. Betapa aku menunggu setiap pesan yang ia kirimkan. Betapa aku mengharapkan momen ketika aku bisa melihatnya dengan mata telanjang tanpa batas  layar handphone. Menyedihkan sekali, tapi candu kau tahu?

Jika ada hari yang paling kusyukuri keberadaannya, itulah hari ketika dirinya lahir. Hari ini 19 September 2021, tepatnya 23 tahun yang lalu. Terima kasih semesta, telah menghadirkannya.

Jika kalian bertanya apakah aku pernah bertemu dengannya? Ya, sering. Selain melalui media sosial, kami juga bertemu dalam mimpi-mimpiku. Haha menyedihkan lagi ya? Tidak apa-apa, aku juga menyadarinya. Kalian bisa menyebutku sad girl jika tentang manusia favorit ini, aku tidak akan keberatan.

Alasan dia tidak tergapai karena kami berbeda. Banyak perbedaan. Selain berbeda lokasi tempat tinggal, beda keyakinan, beda adat, kami juga beda perasaan, sepertinya. Hahahha. Jauh sekali. Maksud dari berbeda lokasi ya karena dia tidak tinggal di Makassar. Dia juga tidak tinggal di daerah Sulawesi bagian lain, Jawa, Sumatera, Kalimantan maupun Papua. Iya, dia bukan orang Indonesia. 

Ada satu waktu ketika aku ingin berkata kepadanya, aku akan mendatanginya, menemuinya di kota kelahiran. Tapi aku takut itu hanya akan menjadi sebuah janji. Biarkan saja aku berusaha dulu memenuhinya, setelah itu baru memberitahu, itu rencanaku. Jika kamu yang membacanya tidak keberatan, ku harap kau mengamini rencanaku. Ya, aku memang se-suka itu, hingga memiliki tekad untuk mendatanginya. Karena mungkin, jika yang kuharapkan adalah dia yang datang ke Indonesia--untuk bertemu denganku, kurasa itu sulit. Jelas saja, aku baginya mungkin hanya teman biasa dari negara asing. Teman biasa, seperti perasaannya yang biasa-biasa saja. Hehe

Random dan tidak jelas sekali tulisanku ini, ya? Maafkan.

NowListening: Alexander 23-I don't know you yet.


k
© DYS - Twenty Three | Blogger Template by Enny Law